Minggu, 17 Mei 2015

Terhitung Dari Hari Ini 

     Hidup terus berjalan beriringan dengan waktu yang seringkali menghadirkan ingatan. Banyak hal yang sudah berusaha dilupakan pun pada akhirnya bisa saja kembali dating, membongkar  kembali luka – luka yang telah using. Semua yang pernah dibuang jauh seolah terlempar menjadi sangat dekat. Aku yang berjalan jauh dan tak berdaya, seolah masih ada yang terasa. Sesuatu yang tersimpan di dada, tenggelam dalam hal-hal yang berbentuk luka.
       Aku tidak ingin kau menduga aku memendam dendam. Aku tak mau kau mengira aku masih menyimpan sayang. Tidak ada sama sekali. Sejak kau memilih pergi dan menyakiti, hatiku bersumpah untuk mati dan tak ingin kau sakiti. Aku telah membuang mu jauh – jauh dari ingatanku. Sebab mengenangmu hanya menjenuhkan kehangatan hariku. Tidak ada gunanya mengenang seseorang yang tak ingin pulang. Seseorang yang memilih mati pada jalan lain. Kamu membuat semua yang menjadi harapan, hanya tersisa dalam pedihnya ingatan. Semua keputusan pahit itu lahir atas pintamu. Semua jalan berderai air mata semata kehendakmu pada semesta. Aku yang tertinggal tak pernah kau beri kesempatan untuk mengatur tanggal kapan semua akan kembali. Kau memilih membakar semua hari. Menjadikan kisah kita hanya kasih yang mati.
      Lama aku mencoba membuat semua menjadi lebih baik. Aku ingin kau berkata kita akan hidup lagi. Tapi kenyataannya tidak semanis harap, yang aku dapat hanya pahit yang mendekap. Kau tetap saja betah menjadi dirimu yang tak peduli. Hingga suatu ketika, lelahku tiba juga. Sejak hari ini aku memilih menganggapmu tak pernah ada. Aku tak memendam dendam. Aku sudah memaafkanmu jauh hari dengan syarat kau tidak pernah kembali. Sebab, maaf mungkin bisa menghilangkan segala luka, namun tak bisa mengembalikan semua seperti semula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar