Jumat, 29 Mei 2015

Perubahan

Ada banyak hal yang harus kita pahami di dunia ini. Salah satunya perihal perubahan. Ya, semua pasti akan berubah pada waktunya. Begitu banyak yang awalnya teramat cinta kemudian berubah biasa saja. Atau mungkin malah bertolak belakang, menjadi saling benci. Ada yang awalnya saling memahami kemudian berubah saling egois. Merasa lebih penting dan merasa selalu ingin menang sendiri. Padahal dulu mereka sepakat untuk belajar saling mengerti. Dan hari ini mereka berubah.

Namun harus kita pahami, perubahan tidak terjadi begitu saja. Ada proses yang membawanya ke arah itu. Semisal, nasi tidak akan pernah menjadi nasi jika saja beras tidak pernah ditanak. Proses tanak inilah yang akan menentukan kualitas nasi. Jika tidak tepat takaran, nasi bisa saja menjadi bubur. Atau malah menjadi arang. Gosong.

Begitulah kita. Proses yang membuat kita mengalami perubahan. Jika kita melaluinya dengan baik. Maka kita akan berubah ke arah yang lebih baik. Cinta akan semakin utuh bila dibangun dengan hati yang penuh. Namun bila kau dan aku hanya setengah hati, perlahan-lahan kita akan kehilangan kendali. Lalu sampai pada tahap hanya ingin menang sendiri. Kita akan lupa bahwa kita punya tujuan yang indah di awal rencana. Kita akan menjadi bubur, bukan hanya bubur yang hancur, bisa jadi bubur yang basi. Hubungan yang kita lalui tidak lagi pakai hati namun lebih banyak emosi

Pertemuan Singkat

  Cinta bukan tentang memiliki,tetapi cinta itu tentang kasih sayang. Disaat kamu bisa merelakan orang yang kamu sayangi, disaat itulah kamu telah menunjukkan kasih sayang. Banyak hal diluar sana yang memilih pergi dan mencari orang lain agar dia tidak kecewa setelah yang dikasihi berpaling. Ada juga seseorang yang beranggapan bahwa tidak semua orang benar – benar bersedia memilih, saat ada yang bersedia sepenuh hati padanya. Bersedialah selagi yang tulus masih ada.
     Pertemuan ku bersama nya untuk yang kesekian kalinya, masih tetap membawa suasana dingin. Sama seperti minggu – minggu dan bulan – bulan sebelumnya. Dia masih bersikap sedemikian. Setelah aku memarkir sepeda motorku, aku langsung melangkahkan kaki ku pada satu rumah dimana ada sebuah keluarga kecil yang saling menyayangi. Itu rumah Mas Galih, Pacarku. Aku mendongak ke atas dan terlihat ada adik pertama  nya Mas Galih,bernama Galang dan seorang cowok dengan kaos hitam dan model rambut cepak. Dari belakang terlihat sangat keren. Sepertinya aku mengenal sosok itu. Aku semakin menyadari siapa cowok itu ketika aku sudah duduk di sofanya. Aku menyadari bahwa itu Dio, seorang cowok yang selama ini aku masih berharap dengannya serta notabene saudara dari Mas Galih. Ya.. Dio seperti biasa nya yang membuat semua mata cewek berdecak kagum melihat  penampilannya. (Iyaaa ini sebenarnya berlebihan.. Nanti yang bersangkutan malah Gedhe kepala lagi.. ) 
     Jika dua orang saling menyukai satu sama lain, bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang – orang yang bersabar. Sementara menanti, sibukkanlah diri untuk terus menjadi pribadi  yang lebih baik lagi. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.        
    Setelah aku duduk, aku mengulurkan tanganku pada Dio. Sentuhan tangannya pun masih sama saat kita ngobrol santai di Hutan Kota. Ketika itu aku menceritakan keluh kesahku dan aku menangis di bahu nya. Ingin sekali aku menangis lagi di bahunya. Namun apa daya jika sedang tersandung lara. Perih kisah ini tak akan terobati. Aku menunggunya dan sampai kapanpun akan terus menunggunya. Aku menunggu pintu hati nya terbuka lagi. Kembali pada cerita,, perasaan itu muncul kembali. Dan tiba – tiba aku menjadi sangat salah tingkah mengetahui dia menutup pandangan kearah ku dengan  gadget nya. Tak bisa dipungkiri aku siapa. Dia siapa. Bak pohon petai tumbuh di kotoran sapi. (iuhh.. itu perumpamaan yang tidak sebanding).
     Setelah mas  Galih duduk disampingku, dia semakin tidak ingin melihat kami. Dia mengobrol dengan Galang dan semua terlihat wajar tanpa ada masalah apapun. Tapi jika aku ingat saat aku mengirim pesan BBM yang sedemikian rupa itu rasanya sungguh memalukan jika diingat – ingat. Terkadang aku percaya, Tuhan menggenggam semua doa.Lalu dilepaskanNya satu persatu disaat yang paling tepat. Artinya ada sedikit harapan jika aku ingin bersama Dio.
     Setelah beberapa menit, Mas Galih mengambil sebuah bungkusan kain yang entahlah itu apa. Aku tidak mengerti dan aku hanya menduga itu kain untuk dipakai. (Lagi – lagi aku sok tau hahaa). Dan Dio pun berlalu pergi meninggalkan kami. Lagi pula aku sudah siap berangkat dengan Mas Galih karena aku sudah berjanji untuk mengantarnya ke toko optik.  Semua teman – teman ku menyuruh ku fokus dengan satu hal. Sama seperti kenyataan pahit ini, aku selalu diberi celotehan dan kajian – kajian agar aku setia pada satu hati dan satu cinta. Menurutku, setia itu mudah, yang sulit adalah SALING. :D

Minggu, 24 Mei 2015

Kenanganmu

Kenanganmu terlalu indah untuk dilupakan, namun terlalu sakit untuk dikenang. Bayangan mu masih terlihat dalam pandangan ku. Senyummu masih sama seperti awal kita bertemu. Tawa mu juga masih terngiang dalam telingaku. Setiap langkah ku masih terukir indah kenangan mu. Jika saja waktu itu aku tidak memilih pergi darimu, andai saja aku tidak membencimu untuk melupakan mu, mungkin saja aku sudah bersama mu. Menggenggam erat tangan mu dan berjalan bersamamu. Menuju kebahagian kita, bukan kebahagiaan masing – masing.

  Kini hanya tinggal kenangan masa lalu yang sulit untuk di ulang. Bahkan untuk bertemu denganmu saja itu rasanya tidak mungkin. Aku menyesal pada akhir kisah ini. Untuk mengucapkan “hai” saja aku rasa mustahil. Ingin ku ulang semua dan ku putar waktu. Itu tidak mungkin. Sungguh tidak mungkin. Aku menyadari salah ku sejak awal. Aku akui sekarang bukan saatnya berjalan mundur dan tetap mengingat mu. Kini saatnya berjalan maju karena aku sudah menuai apa yang telah aku tanam dulu.

    Aku mungkin bisa menganggap semua tidak pernah terjadi. Aku sanggup jika harus berpura-pura mencintai seseorang yang telah aku pilih menjadi matahariku. Namun bayang mu tetap terkenang dan abadi dalam hatiku. Meskipun kita tidak saling sapa untuk saat ini,aku berharap esok entah kapan itu kita bisa berbahagia dalam satu waktu meskipun bukan kita berdua yang membuat kebahgiaan itu terjadi. Sebab kebahagiaan ini bukan hanya kita yang mencarinya,namun orang lain juga berhak bahagia terutama untuk orang di sisi kita.

    Hancur sudah segala hubungan yang telah kita bina. Lebur semua kisah silam masa lalu kita. Hanya ada perih dan puing – puing kesedihan diantara remukan jantung ini. Dalam sisi ini aku bersedih, namun di sisi lain aku harus menjadi cahaya bagi orang yang telah mengasihi ku setulusnya. Sungguh sulit menjadi dua pribadi dengan penuh kepalsuan cinta. Terlebih lagi jika orang yang menyayangi kita dengan tulus dan penuh tanggung jawabnya sangat menginginkan kita bahagia bersamanya. Sekali lagi ini soal kenyamanan. Bukan soal materi atau soal martabat yang dengan mudah bisa lenyap.

SEPATU

       Perasaan yang kita punya adalah sama, hanya saja diam lebih baik daripada diungkapkan. Selama ini yang kita jalani hanyalah seperti seorang yang kesepian dan mencoba menghibur dirinya. Kita sama-sama ingin bersatu. Namun kita hanya bisa yakin pada suatu saat nanti, kita akan di pertemukan kembali. Karena perpisahan bukanlah akhir dari pertemuan, melainkan adalah nasihat agar kita akhrab saat kita bertemu kembali.
         Aku tau kau mencoba acuh untuk semua rasa yang kau simpan. Hingga tiba saat nya kau pun mengerti kenapa aku lebih memilih tertutup saat dengan mu. Aku tak menyangka sekarang hal ini menjadi lebih sulit dari apa yang ada di pikiran ku. Aku telah menghapus bayangan mu dari hatiku, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku berusaha mengubah nama mu menjadi namanya. Aku mencoba melupakan kejadian masa lalu yang belum berujung. Aku mencoba tidak mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan. Aku memilih diam. Aku memilih acuh dengan risiko kau dan aku yang terluka. Setidaknya aku masih menghargainya sebagai saudara mu dan sebagai pacarku.
        Apa yang aku lakukan salah? Apakah aku membuat hatimu semakin sakit? Apa aku memang tak pantas memiliki kebahagiaan bersamamu? Apa lagi yang kau tunggu saat semua kesulitan ini hampir berakhir? Aku ingin mengakhiri ini semua. Aku bungkam hati dan mati rasa. Aku tak ingin mempersingkat hubungan ini, aku tidak mau hubungan ini berlalu begitu saja. Semua yang telah aku lakukan tidak ternilai di mata mu.  Mungkin ada benar nya jika memang dari awal kita tidak usah memendam rasa dan tidak perlu mengungkapkan isi hati kita masing – masing. Jika akhir dari kenyataan ini sungguh menyedihkan. Aku mencoba tak mau tau tentang ini, tapi bagaimana pun aku sudah terlibat. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita yang menjalani nya. Aku tidak tahu sampai kapan akan terus begini. Bagiku melihat mu saja sudah cukup mengobati rasa ku pada mu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Ketika doa – doa yang kita panjatkan belum juga terdengar oleh-Nya.
       Ketika aku mulai mengerti arti nya mencintai. Ketika aku mulai paham tentang segala rasa iba yang menurutnya sama dengan cinta. Rasa terimakasih yang menurutnya sama dengan sayang. Aku tidak ingin menyalahkan mu atas hal ini. Aku yang memulai nya, dan harus aku juga yang harus mengakhirinya.  Ini sudah terlambat jika ingin memperbaiki semua nya. Kau telah memilih mundur dan melupakan ku. Begitupula aku yang memilih fokus pada saudara mu hanya untuk mengubur dalam – dalam kenangan mu. Aku takut tidak bisa bertemu kembali dengan mu. Meskipun demikian, jalan ku tetap kukuh dengan apa adanya diriku.
       Aku hanya bisa berharap kelak kau menemukan cinta sejati mu. Yang mampu memberikan kasih sayang tulus kepada mu, bukan semata – mata hanya melihat mu dari segi atasnya saja. Aku berterimakasih atas segala rasa yang kau beri, segala kasih dan doa mu meski kau utarakan dalam diam. Terimakasih telah mengajarkan ku arti cinta yang sesungguhnya, arti perjuangan yang sesungguhnya. Serta arti pengorbanan yang mulia. Aku mencintaimu dalam diam hingga aku dan kau menjadi kita.

Minggu, 17 Mei 2015

Terhitung Dari Hari Ini 

     Hidup terus berjalan beriringan dengan waktu yang seringkali menghadirkan ingatan. Banyak hal yang sudah berusaha dilupakan pun pada akhirnya bisa saja kembali dating, membongkar  kembali luka – luka yang telah using. Semua yang pernah dibuang jauh seolah terlempar menjadi sangat dekat. Aku yang berjalan jauh dan tak berdaya, seolah masih ada yang terasa. Sesuatu yang tersimpan di dada, tenggelam dalam hal-hal yang berbentuk luka.
       Aku tidak ingin kau menduga aku memendam dendam. Aku tak mau kau mengira aku masih menyimpan sayang. Tidak ada sama sekali. Sejak kau memilih pergi dan menyakiti, hatiku bersumpah untuk mati dan tak ingin kau sakiti. Aku telah membuang mu jauh – jauh dari ingatanku. Sebab mengenangmu hanya menjenuhkan kehangatan hariku. Tidak ada gunanya mengenang seseorang yang tak ingin pulang. Seseorang yang memilih mati pada jalan lain. Kamu membuat semua yang menjadi harapan, hanya tersisa dalam pedihnya ingatan. Semua keputusan pahit itu lahir atas pintamu. Semua jalan berderai air mata semata kehendakmu pada semesta. Aku yang tertinggal tak pernah kau beri kesempatan untuk mengatur tanggal kapan semua akan kembali. Kau memilih membakar semua hari. Menjadikan kisah kita hanya kasih yang mati.
      Lama aku mencoba membuat semua menjadi lebih baik. Aku ingin kau berkata kita akan hidup lagi. Tapi kenyataannya tidak semanis harap, yang aku dapat hanya pahit yang mendekap. Kau tetap saja betah menjadi dirimu yang tak peduli. Hingga suatu ketika, lelahku tiba juga. Sejak hari ini aku memilih menganggapmu tak pernah ada. Aku tak memendam dendam. Aku sudah memaafkanmu jauh hari dengan syarat kau tidak pernah kembali. Sebab, maaf mungkin bisa menghilangkan segala luka, namun tak bisa mengembalikan semua seperti semula.

Jumat, 15 Mei 2015

Akhirnya

  Pada akhirnya, kamu hanya perlu mensyukuri apapun yang kamu miliki hari ini. Walau yang kau tunggu tak pernah datang. Walaupun yang kau perjuangkan tak pernah sadar dengan apa yang kau lakukan. Nikmati saja. Kelak, dia yang kau cintai akan tahu, betapa kerasnya kau memperjuangkannya. Betapa dalamnya rasa yang kau simpan padanya. Dia hanya pura-pura tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu sama sekali. Tidak usah hiraukan Jika sampai hari ini kau masih memperjuangkannya, dan masih menunggunya, tidak masalah. Tidak ada salahnya memperjuangkan cinta yang kau rasa. Tapi satu hal yang mungkin bisa kau renungkan. Menunggu ada batasnya. Dan kau akan tahu kapan harus berhenti dan mulai berjalan lagi. Meninggalkan tempat dimana kamu pernah berjuang sepenuh hati, tapi tak dihargai.
    Benci? Tidak. Aku sayang dia. Menjauh pun rasanya tak sanggup. Tapi aku tau, makin lama, makin cinta, makin mendalam, makin menyakitkan… Sedih? Tentu. Aku tidak bisa mengobrol lagi dengannya, tak bisa bertemu dia lagi… Lega? Iya. Mengapa jarak itu penting saat aku tau bukan aku yang dia mau. Memutuskan pergi saat sudah sejauh ini ya berat, tapi harus.
   Terkadang aku merasa bahwa apa yang aku lakukan tidak pernah dihargai,dan tak pernah di anggap ada. Aku tidak mau dia tahu bahwa aku masih menunggunya, yah ini lah cinta, semakin disembunyikan semakin terluka.Andai saja ia sadar, aku selalu ada disampingnya dan masih berharap pada nya. Aku masih menunggunya, hingga aku putuskan menggenggam tangan orang lain dan yang ku jadikan sebagai pelarian ku. Meskipun pelarian ku adalah sosok yang lebih baik dari dirinya, entah mengapa aku lebih memilih yang pertama itu. Padahal yang pertama tak kunjung tiba dengan segala keangkuhannya. Entahlah, yang terbaik dan pernah tersingkirkan. Yaa.. setidaknya aku masih bisa melihatnya, walau dari jauh.