Cinta bukan tentang memiliki,tetapi cinta itu tentang kasih sayang. Disaat kamu bisa merelakan orang yang kamu sayangi, disaat itulah kamu telah menunjukkan kasih sayang. Banyak hal diluar sana yang memilih pergi dan mencari orang lain agar dia tidak kecewa setelah yang dikasihi berpaling. Ada juga seseorang yang beranggapan bahwa tidak semua orang benar – benar bersedia memilih, saat ada yang bersedia sepenuh hati padanya. Bersedialah selagi yang tulus masih ada.
Pertemuan ku bersama nya untuk yang kesekian kalinya, masih tetap membawa suasana dingin. Sama seperti minggu – minggu dan bulan – bulan sebelumnya. Dia masih bersikap sedemikian. Setelah aku memarkir sepeda motorku, aku langsung melangkahkan kaki ku pada satu rumah dimana ada sebuah keluarga kecil yang saling menyayangi. Itu rumah Mas Galih, Pacarku. Aku mendongak ke atas dan terlihat ada adik pertama nya Mas Galih,bernama Galang dan seorang cowok dengan kaos hitam dan model rambut cepak. Dari belakang terlihat sangat keren. Sepertinya aku mengenal sosok itu. Aku semakin menyadari siapa cowok itu ketika aku sudah duduk di sofanya. Aku menyadari bahwa itu Dio, seorang cowok yang selama ini aku masih berharap dengannya serta notabene saudara dari Mas Galih. Ya.. Dio seperti biasa nya yang membuat semua mata cewek berdecak kagum melihat penampilannya. (Iyaaa ini sebenarnya berlebihan.. Nanti yang bersangkutan malah Gedhe kepala lagi.. )
Jika dua orang saling menyukai satu sama lain, bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang – orang yang bersabar. Sementara menanti, sibukkanlah diri untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.
Setelah aku duduk, aku mengulurkan tanganku pada Dio. Sentuhan tangannya pun masih sama saat kita ngobrol santai di Hutan Kota. Ketika itu aku menceritakan keluh kesahku dan aku menangis di bahu nya. Ingin sekali aku menangis lagi di bahunya. Namun apa daya jika sedang tersandung lara. Perih kisah ini tak akan terobati. Aku menunggunya dan sampai kapanpun akan terus menunggunya. Aku menunggu pintu hati nya terbuka lagi. Kembali pada cerita,, perasaan itu muncul kembali. Dan tiba – tiba aku menjadi sangat salah tingkah mengetahui dia menutup pandangan kearah ku dengan gadget nya. Tak bisa dipungkiri aku siapa. Dia siapa. Bak pohon petai tumbuh di kotoran sapi. (iuhh.. itu perumpamaan yang tidak sebanding).
Setelah mas Galih duduk disampingku, dia semakin tidak ingin melihat kami. Dia mengobrol dengan Galang dan semua terlihat wajar tanpa ada masalah apapun. Tapi jika aku ingat saat aku mengirim pesan BBM yang sedemikian rupa itu rasanya sungguh memalukan jika diingat – ingat. Terkadang aku percaya, Tuhan menggenggam semua doa.Lalu dilepaskanNya satu persatu disaat yang paling tepat. Artinya ada sedikit harapan jika aku ingin bersama Dio.
Setelah beberapa menit, Mas Galih mengambil sebuah bungkusan kain yang entahlah itu apa. Aku tidak mengerti dan aku hanya menduga itu kain untuk dipakai. (Lagi – lagi aku sok tau hahaa). Dan Dio pun berlalu pergi meninggalkan kami. Lagi pula aku sudah siap berangkat dengan Mas Galih karena aku sudah berjanji untuk mengantarnya ke toko optik. Semua teman – teman ku menyuruh ku fokus dengan satu hal. Sama seperti kenyataan pahit ini, aku selalu diberi celotehan dan kajian – kajian agar aku setia pada satu hati dan satu cinta. Menurutku, setia itu mudah, yang sulit adalah SALING. :D
Pertemuan ku bersama nya untuk yang kesekian kalinya, masih tetap membawa suasana dingin. Sama seperti minggu – minggu dan bulan – bulan sebelumnya. Dia masih bersikap sedemikian. Setelah aku memarkir sepeda motorku, aku langsung melangkahkan kaki ku pada satu rumah dimana ada sebuah keluarga kecil yang saling menyayangi. Itu rumah Mas Galih, Pacarku. Aku mendongak ke atas dan terlihat ada adik pertama nya Mas Galih,bernama Galang dan seorang cowok dengan kaos hitam dan model rambut cepak. Dari belakang terlihat sangat keren. Sepertinya aku mengenal sosok itu. Aku semakin menyadari siapa cowok itu ketika aku sudah duduk di sofanya. Aku menyadari bahwa itu Dio, seorang cowok yang selama ini aku masih berharap dengannya serta notabene saudara dari Mas Galih. Ya.. Dio seperti biasa nya yang membuat semua mata cewek berdecak kagum melihat penampilannya. (Iyaaa ini sebenarnya berlebihan.. Nanti yang bersangkutan malah Gedhe kepala lagi.. )
Jika dua orang saling menyukai satu sama lain, bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang – orang yang bersabar. Sementara menanti, sibukkanlah diri untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.
Setelah aku duduk, aku mengulurkan tanganku pada Dio. Sentuhan tangannya pun masih sama saat kita ngobrol santai di Hutan Kota. Ketika itu aku menceritakan keluh kesahku dan aku menangis di bahu nya. Ingin sekali aku menangis lagi di bahunya. Namun apa daya jika sedang tersandung lara. Perih kisah ini tak akan terobati. Aku menunggunya dan sampai kapanpun akan terus menunggunya. Aku menunggu pintu hati nya terbuka lagi. Kembali pada cerita,, perasaan itu muncul kembali. Dan tiba – tiba aku menjadi sangat salah tingkah mengetahui dia menutup pandangan kearah ku dengan gadget nya. Tak bisa dipungkiri aku siapa. Dia siapa. Bak pohon petai tumbuh di kotoran sapi. (iuhh.. itu perumpamaan yang tidak sebanding).
Setelah mas Galih duduk disampingku, dia semakin tidak ingin melihat kami. Dia mengobrol dengan Galang dan semua terlihat wajar tanpa ada masalah apapun. Tapi jika aku ingat saat aku mengirim pesan BBM yang sedemikian rupa itu rasanya sungguh memalukan jika diingat – ingat. Terkadang aku percaya, Tuhan menggenggam semua doa.Lalu dilepaskanNya satu persatu disaat yang paling tepat. Artinya ada sedikit harapan jika aku ingin bersama Dio.
Setelah beberapa menit, Mas Galih mengambil sebuah bungkusan kain yang entahlah itu apa. Aku tidak mengerti dan aku hanya menduga itu kain untuk dipakai. (Lagi – lagi aku sok tau hahaa). Dan Dio pun berlalu pergi meninggalkan kami. Lagi pula aku sudah siap berangkat dengan Mas Galih karena aku sudah berjanji untuk mengantarnya ke toko optik. Semua teman – teman ku menyuruh ku fokus dengan satu hal. Sama seperti kenyataan pahit ini, aku selalu diberi celotehan dan kajian – kajian agar aku setia pada satu hati dan satu cinta. Menurutku, setia itu mudah, yang sulit adalah SALING. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar