Minggu, 10 Agustus 2014

PEDIH (Part 2)



Setelah ayahku resmi dengan status duda, aku masih tak percaya jika ayah ku menggoda wanita lain. Mami Ifa, dia seorang wanita sabar asli Lamongan yang juga menjanda dengan memiliki seorang putri. Setelah lama berkenalan dengan mami Ifa, ayahku berencana menikahinya. Namun itu hanya janji palsunya. Mami Ifa telah menitipkan Ayu (putri sulung mami Ifa) selama satu tahun lebih dirumahku. Usia Ayu masih 14 tahun. Dia belum bisa beradaptasi dengan suasana dan kerasnya kehidupan kota. Sehingga aku yang harus mengawasinya. Hari-hariku dengannya semakin baik dan hampir tak pernah ada pertengkaran meskipun saling berbeda pendapat. Dia anak yang sopan dan pendiam. Aku menyayanginya seperti adik kandungku sendiri.
                Kembali pada mami Ifa yang saat itu sudah merasa cocok dengan ayahku. Aku tak mengerti jalan pikiran mereka yang masih seperti anak muda, aku bahagia dengan cerita mereka. Mamiku juga bersifat sama, ia terlalu membanggakan ayahku dengan semua kelebihannya. Selama beberapa bulan ia belum juga dinikahi sah oleh ayahku dengan alasan ayah masih tidak memikirkan hal itu.Karena sedang ada tanggungan, membayar sekolahku dan sekolah Ayu serta kebutuhan lalinnya. Kerap kali ia tidak menggubris omongan mami Ifa yang ingin segera diberi kepastian. Aku mencoba tak mau tahu urusan mereka, aku mencoba acuh tak acuh dengan semuanya. Seringkali aku berfikir kenapa aku diberi cobaan seperti ini. Aku tidak tahan lagi Tuhan, aku ingin semuanya baik-baik saja. Aku ingin seperti teman – temanku yang lain, yang hampir tak punya  masalah dengan keluarganya. Yang mendapat kebahagiaan dari keluarganya, bukan dari keluarga yang berantakan seperti ini. 
Waktu berlalu begitu cepat, satu tahun terlewat. Aku semakin mengerti arti kebencian. Didalam kesendirian ibuku setidaknya masih mempunyai aku yang selalu mendukungnya bagaimana kondisi nya dan bagaimana keadaannya. Aku sayang ibu kandungku, ibu yang telah melahirkan dan membesarkan ku sampai saat ini. Namun lagi-lagi renacana tak selancar perkiraan. Istri tuanya tidak merestui jika sang suami menikah lagi dengan wanita lain. Sehingga ibuku masih tertekan dan harus sabar serta mengerti statusnya sebagai wanita simpanan. Ibuku harus rela jika laki-laki yang menjadi pendampingnya tidak makan dan tidur di rumah kontrakan ini.
Keadaanpun berubah dengan berjalannya waktu. Saham yang dikelola Papa Imam sedang bangkrut dan ia tidak ada job. Terpaksa ia harus menganggur sementara waktu. Hingga ia hanya meminta uang pada ibuku.Ibukupun selalu memberi uang pada Papa Imam meskipun ia tidak pernah mencukupi uang belanja. Ia merasa kasihan pada Papa Imam, sampai cincin 4 gram pun telah ia jual untuk melunasi hutang – hutang Papa Imam. Selama berhari – hari ibuku terus menunggu Papa Imam pulang. Karena seudah seminggu lebih handphone nya tidak bisa dihubungi. Bukan karena nomornya tidak aktif tapi karena tidak di angkat dan sms pun tidak dibalas.
Hingga suatu hari Papa Imam datang kerumah kontrakan ibuku bersama seorang wanita,
”Mbak Narti, gak perlu memikirkan mas Imam lagi. Dia sudah memilih aku untuk menjadi istrinya. Selama ini mas Imam sengaja tidak pulang karena menginap dirumahku!”
Suara itu tiba-tiba membuat hati ibuku bergetar dan ingin sekali  rasanya menangis. Ibuku sudah tidak kuat lagi dengan perlakuan Papa Imam saat itu,yang berani membawa wanita lain dan mengaku bahwa itu istri nya yang baru. Dengan berat hati,ibuku menerima kenyataan pahit itu, ia berfikir bahwa laki-laki yang dihadapannya saat itu adalah lelaki bajingan yang berlaku seperti binatang. Tak hanya itu anaknya yang bernama Desi pun turut berkata,
“Aku memilih Ia sebagai ibuku karena dia yang pertama aku kenal. Jadi panjenengan tidak usah menghubungi ayahku lagi”
Semakin menangis ibuku mendengar kata anaknya saat itu. Dia kemudian sadar bahwa ia hanya istri sirrinya.Jadi bagaimanapun dan alasan apapun tidak mempan lagi untuk membawa serta mengelak menerima kenyataan ini. Hatinya merasa sakit sekali, tidak hanya sakit, kecewapun ia rasakan. Berhari-hari ia tidak makan dan selalu memikirkan kejadian itu. Sungguh tega suaminya mengkhianati ibuku yang lugu dan sabar sedemikian rupa. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Beberapa bulan ia mencoba melupakan hal itu, jika mengingatnya ia merasa sangat sedih. Ditambah lagi badannya mulai kurus. Aku tidak tega melihatnya. Apa yang harus aku lakukan Tuhan, belum cukupkah ujian dari-Mu?? Aku hanya bisa menangis melihatnya seperti ini. Aku berfikir, dengan menangis setidaknya aku merasa sedikit lega. Aku bungkam mulut dan mati rasa.
Hari raya pertama yang kujalani di rumah ayahku, bersama Mami Ifa dan Ayu membuat ku merasa tenang. Meskipun ada sedikit beban dibenakku, aku mencoba menghilangkannya. Aku mencoba tersenyum dan hal sulit itu terlupakan sejenak karena kesibukan ku bekerja. Saat itu aku berkerja siang dan malam. Pagi jam 08.00 aku berangkat ke Jawa Timur Park 1 dan sore pukul 15.00 aku berangkat casual di Batu Night Spectacular hingga larut malam. Selalu seperti itu hingga satu bulan ku jalani. 

( BERSAMBUNG KE PART 3)