Pagi - pagi aku sudah berada disekolah, untuk menghadiri acara Hari Guru di Balai Kota. Seorang teman ku minta untuk menjemputku. Sesampainya disana, seperti biasa. Parkir sepeda motor, banyak murid-murid dan guru-guru yang datang ke acara tersebut. Ada beberapa guru yang aku kenal juga. Saat aku duduk di salah satu kursi beton dengan cuaca agak mendung. Tiba-tiba teman ku berkata,
"Nit, aku sepertinya kenal dengan orang itu", sambil menunjuk ke arah laki-laki seperti masih muda mengenakan jaket hitam dan berkacamata.
"Yang mana?", tanyaku tidak mengerti yang ia maksud
"Pake jaket hitam berkaca mata"
"Ohh.. Siapa As?", tanya ku balik
"Aku lupa namanya, tapi pernah satu organisasi sama aku", jawabnya
"Siapa dia? kenalin donk As..", kataku karena aku agak tertarik melihatnya
"sapa en As",seruku.
"mas, kerja dimana?" kata Asri sok akhrab
"loh Asri.. Aku di SDN T********* 02",jawabnya kaku
"sudah nikah mas?",tanya Asri lagi.
Aku tidak percaya tiba-tiba Asri berkata seperti itu.
"belum, belum ada yang cocok"
"wahh..sama mas. Ini juga belum",Asri menunjukku. Aku sedikit kaget mendengar celotehan ngawur nya si Asri. Aku langsung menarik tangannya Asri untuk duduk kembali di sampingku. Mas itu hanya heran kenapa tiba-tiba Asri berkata seperti itu. Tak lama kemudia dia berbaur dengan guru - guru yang lain. Itulah awal pertemuan ku dengan dia, Mas Roni. Aku hanya bisa tahu namanya dari Asri.
——————————————————————————
Keesokan harinya aku mengirim pesan whatsapp ke Asri yang isinya ingin meminta nomor Mas Roni. Cowok yang bertemu dengan aku dan Asri di Balai Kota kemarin. Asri mencarikannya. Setelah itu mengirimi aku sebuah gambar screenshoot yang isinya nomornya dia. Aku berfikir nanti sajalah aku download. Karena saat itu aku sedang dekat dengan seseorang juga.
——————————————————————————
Beberapa hari kemudian..
Ada notifikasi pesan whatsapp,ternyata dari Asri. Dia memintaku untuk membantunya saat ada kegiatan Pramuka di sekolahnya. Aku menyetujuinya yaa hitung-hitung mengisi waktu luang saja menjelang liburan karena saat itu hubungan dengan orang yang aku dekati juga semakin jauh tanpa sebab. Aku bercerita kepada Asri tentang pernasalahanku. Asri menyuruhku untuk terus menunggu. Namun semakin lama aku merasa aneh menunggu seseorang yang sama sekali tidak memprioritaskan aku. Aku hanya bisa menyanyikan lagu maher zain feat maudy ayunda "insyaAllah tahu diri". Hahaa
Tiba-tiba aku teringat beberapa waktu lalu Asri mengirimiku screenshoot nomor cowok yang aku temui di acara hari guru beberapa waktu lalu. Aku langsunh buka whatsapp, aku cari kontak chat dari Asri. Tapi aku menemukan chat itu kosong. Ternyata sudah aku hapus. Ahh betapa bodohnya aku. Kenapa aku bisa lupa. Kenapa aku teledor sekali. Duh biarlah..apa yang aku sesali. Mungkin belum berjodoh.
——————————————————————————
Hari - hari berlalu..
Hujan terus turun di pertengahan Desember. Aku semakin benci kala itu. Aku masih tetap dengan bayang-bayang masa lalu. Masih ingat jelas diingatanku saat ku temui mantan ku di depan tempat ku malam itu, pukul 22.30 kita duduk berdua di teras koperasi sekolah yang sedang tutup kala itu. Hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali angin berhembus. Dingin.. Tapi tak kurasakan karena aku fokus mendengarkan cerita darinya.
"aku bahagia kamu bahagia dengan dia, aku seneng kamu bisa bersama orang lain. Kamu tau gak, kita pernah merencanakan ke pantai, selama satu tahun kita merencanakan. Dan kemarin kamu pergi sama dia. Aku sedih, gak bisa ke pantai. Tak apa, aku bisa pergi lain kali. Entah dengan siapa." kataku sambil menyeka air mataku di pipi.
"aku pergi kesana juga diajak oleh keluarganya. Tidak ada rencana sama sekali. Aku hanya diajak karena kebetulan mobil nya kosong satu penumpang." kata dia membenarkan.
Percakapan sederhana, kami bercerita kabar kami masing - masing. Kabar ku dengan orang yang dekat dengan ku, kabar tentang perjodohanku, tentang kabar nya bersama mantannya yang dulu. Saat itu aku masih sayang dengannya. Masih sayang. Tapi aku hanya bisa mendoakan nya bahagia bersama orang lain. Tetaplah disitu, aku tak akan mengganggumu. Diam saja. Kita cukup memperhatikan dan pelan-pelan saling melupakan.




