Selasa, 06 Februari 2018

Masa Transisi

Pagi - pagi aku sudah berada disekolah, untuk menghadiri acara Hari Guru di Balai Kota. Seorang teman ku minta untuk menjemputku. Sesampainya disana, seperti biasa. Parkir sepeda motor, banyak murid-murid dan guru-guru yang datang ke acara tersebut. Ada beberapa guru yang aku kenal juga. Saat aku duduk di salah satu kursi beton dengan cuaca agak mendung. Tiba-tiba teman ku berkata,
   "Nit, aku sepertinya kenal dengan orang itu", sambil menunjuk ke arah laki-laki seperti masih muda mengenakan jaket hitam dan berkacamata.
   "Yang mana?", tanyaku tidak mengerti yang ia maksud
   "Pake jaket hitam berkaca mata"
   "Ohh.. Siapa As?", tanya ku balik
   "Aku lupa namanya, tapi pernah satu organisasi sama aku", jawabnya
   "Siapa dia? kenalin donk As..", kataku karena aku agak tertarik melihatnya
   "sapa en As",seruku.
   "mas, kerja dimana?" kata Asri sok akhrab
   "loh Asri.. Aku di SDN T********* 02",jawabnya kaku
   "sudah nikah mas?",tanya Asri lagi.
Aku tidak percaya tiba-tiba Asri berkata seperti itu.
   "belum, belum ada yang cocok"
   "wahh..sama mas. Ini juga belum",Asri menunjukku. Aku sedikit kaget mendengar celotehan ngawur nya si Asri. Aku langsung menarik tangannya Asri untuk duduk kembali di sampingku. Mas itu hanya heran kenapa tiba-tiba Asri berkata seperti itu. Tak lama kemudia dia berbaur dengan guru - guru yang lain. Itulah awal pertemuan ku dengan dia, Mas Roni. Aku hanya bisa tahu namanya dari Asri. 
——————————————————————————
Keesokan harinya aku mengirim pesan whatsapp ke Asri yang isinya ingin meminta nomor Mas Roni. Cowok yang bertemu dengan aku dan Asri di Balai Kota kemarin. Asri mencarikannya. Setelah itu mengirimi aku sebuah gambar screenshoot yang isinya nomornya dia. Aku berfikir nanti sajalah aku download. Karena saat itu aku sedang dekat dengan seseorang juga.
——————————————————————————
Beberapa hari kemudian..
Ada notifikasi pesan whatsapp,ternyata dari Asri. Dia memintaku untuk membantunya saat ada kegiatan Pramuka di sekolahnya. Aku menyetujuinya yaa hitung-hitung mengisi waktu luang saja menjelang liburan karena saat itu hubungan dengan orang yang aku dekati juga semakin jauh tanpa sebab. Aku bercerita kepada Asri tentang pernasalahanku. Asri menyuruhku untuk terus menunggu. Namun semakin lama aku merasa aneh menunggu seseorang yang sama sekali tidak memprioritaskan aku. Aku hanya bisa menyanyikan lagu maher zain feat maudy ayunda "insyaAllah tahu diri". Hahaa
Tiba-tiba aku teringat beberapa waktu lalu Asri mengirimiku screenshoot nomor cowok yang aku temui di acara hari guru beberapa waktu lalu. Aku langsunh buka whatsapp, aku cari kontak chat dari Asri. Tapi aku menemukan chat itu kosong. Ternyata sudah aku hapus. Ahh betapa bodohnya aku. Kenapa aku bisa lupa. Kenapa aku teledor sekali. Duh biarlah..apa yang aku sesali. Mungkin belum berjodoh.
——————————————————————————
Hari - hari berlalu..
Hujan terus turun di pertengahan Desember. Aku semakin benci kala itu. Aku masih tetap dengan bayang-bayang masa lalu. Masih ingat jelas diingatanku saat ku temui mantan ku di depan tempat ku malam itu, pukul 22.30 kita duduk berdua di teras koperasi sekolah yang sedang tutup kala itu. Hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali angin berhembus. Dingin.. Tapi tak kurasakan karena aku fokus mendengarkan cerita darinya.
   "aku bahagia kamu bahagia dengan dia, aku seneng kamu bisa bersama orang lain. Kamu tau gak, kita pernah merencanakan ke pantai, selama satu tahun kita merencanakan. Dan kemarin kamu pergi sama dia. Aku sedih, gak bisa ke pantai. Tak apa, aku bisa pergi lain kali. Entah dengan siapa." kataku sambil menyeka air mataku di pipi.
   "aku pergi kesana juga diajak oleh keluarganya. Tidak ada rencana sama sekali. Aku hanya diajak karena kebetulan mobil nya kosong satu penumpang." kata dia membenarkan.
Percakapan sederhana, kami bercerita kabar kami masing - masing. Kabar ku dengan orang yang dekat dengan ku, kabar tentang perjodohanku, tentang kabar nya bersama mantannya yang dulu. Saat itu aku masih sayang dengannya. Masih sayang. Tapi aku hanya bisa mendoakan nya bahagia bersama orang lain. Tetaplah disitu, aku tak akan mengganggumu. Diam saja. Kita cukup memperhatikan dan pelan-pelan saling melupakan.


        Nona Asmara 12/02/2017


Figuran

Jodoh itu tidak akan tertukar, jodoh juga harus dikejar, jodoh mungkin sudah ada yang mengatur. Yaitu Allah. Lalu bagaimana jika Ibu tiri ku ikut mengatur jodohku. Itu lebih terdengar kejam. Entah apa yang ada dipikiran ibuku kala itu. Aku tidak ingin mereka kecewa. Aku ingin membahagiakan mereka. Aku paham orang tua ingin anaknya bahagia. Tapi tidak dengan cara menjodohkan secara paksa. Aku tidak ingin di jodoh-jodohkan. Perasaan ku menjadi berantakan saat ibuku mengenalkan ku dengan seorang laki - laki usia 40 tahun. Di mata ibuku laki-lqki itu berkarir dan penuh tanggung jawab serta mapan dari segi materi dan ibadah nya juga. Kalau hati enggan, apa yang harus ku lakukan. Aku benar-benar bingung. Hatiku kacau, carut maut, ingin berlari, ingin pergi, aku terdiam membisu. 
Laki-laki itu bernama Mas Z,  tetangga dari ibu tiriku. Ibu ku sangat ingin menjadikan Mas X sebagai menantunya. Bahkan untuk anak nya yang pertama, Mas Z sudah dipilih oleh ibuku. Tapi anak pertamanya tidak menyukai. Entahlah. Hubungan ku dengan pacarku kala itu juga banyak perdebatan. Ada saja masalah, hal kecil yang tidak perlu aku permasalahkan entah kenapa makin menjadi. Aku mengatakan pada pacarku untuk memilih menerima perjodohan itu. Aku hanya menjalani saja dengan nya selama kurang lebih satu bulan. Dan itu juga bukan waktu yang lama. Aku tak perlu waktu lama untuk mengerti bagaimana karakter seseorang. Apakah mungkin aku terlalu banyak menghadapi banyak orang dan aku bisa menebak karakter orang-orang itu. Anggap saja iya. 
Satu bulan juga aku ingin mengenal bagaimana orang pilihan ibuku ini. Sudah banyak yang ia korbankan dalam bentuk materi kepadaku. Bodohnya aku tergoda dengan semuanya yg terlihat semu. Satu bulan aku jalani. Sudah ku tebak apa maunya, saat itu aku benar-benar muak. Aku bingung bagaimana menolaknya, aku kacau. Aku linglung seketika. Tak tau arah. Berlarian kesana kemari. Aku berusaha memperbaiki diri. Terua berusaha.
Satu bulan itu juga aku mencoba menerima masukan - masukan dari orang lain. Menerima saran-saran dari orang itu. Saat aku bercerita dengan orang yang aku anggap ibuku sendiri, yaitu wali murid dari murid lesku. 
   "bu, aku ingin cerita. Aku dijodohkan dengan seorang penjahit yang bertempat tinggal di desa T****. Tapi usia nya 2 kali lipat dariku. Menurut panjenengan bagaimana?"
   "lohh siapa? Jangan-jangan Z ya??"
   "loh kok tahu?" seraya aku bertanya lagi dengan kaget,"kok kenal bu?"
   "Ya ampunnn... Siapa yang ngenalin? Itu kan mantan nya ibu dulu waktu SMP",jawabnya dengan tertawa.
   "loh iya ta bu?",aku hampir tidak percaya
   " iyaa..duluuu ceritanya begini............" ibu itu bercerita panjang lebar, dan dari cerita itu aku tau bagaimana karakter asli nya. Benar - benar asli. Dengan cerita dan saran itu aku mampu menolak nya. Karena dari awal aku memang tidak suka.
Semenjak aku katakan kejujuran hatiku. Dia mengalah. Dia memahami situasi ku. Aku mencoba menceritakan apa yang terjadi sebenarnya antara aku dan Mas Z. Ibuku pasrah. Ibuku mengerti tidak semua nya harus dipaksakan. 
Aku mengakhiri hubungan ku dengan mantan ku, karena ingin ibuku bahagia. Nyatanya, ibuku tidak tahu apapun tentang pria itu. Yapp itulah cerita kenapa aku bisa putus dengan mantanku. Mas Z sebagai figuran, artinya hanya tokoh yang sekali muncul dan tidak pernah lagi muncul. 

      Nona Asmara 20/11/2017

Senin, 05 Februari 2018

Khowwas 1

Siang ini dimeja kerjaku. Aku ingin menulis. Entah kenapa aku hanya ingin menulis. Saat jam 12.50 siang hari dengan cuaca panas dan mendung secara bergantian. Aku ingin menulis puisi untukmu. Karena setelah film "Dilan 1990" yang di putar di bioskop beberapa waktu lalu dan kita tonton, aku jadi ingin memulai menulis lagi. Setelah satu tahun kebersamaan kita. Dan juga setelah beberapa bulan kita tidak bersama. Aku hanya ingin kau tahu, perasaan itu tetap sama. Sama seperti awal pertemuan kita dan postinganku 11bulan terakhir. Ya.. Selain aku lupa password email blogger ku aku juga bisa dibilang jarang ada waktu karena fokus skripsi. Sekarang aku ingin mulai menulis lagi. Tentang aku, kamu, dia, hidupku, dan semuanya.. Rasanya seperti menggerus obat saat sakit.😅 Hanya saat sakit saja menggerus obat, sejarang itu sakit,dan se jarang itu menggerus obat. Ahh sudahlah..
Ingatan itu kembali, saat pertama aku menelepon mu, saat aku bilang,"aku sebenarnya juga suka kamu saat SMP", saat aku ingin kamu ke Kota Batu, aku ingat semua hal. Hanya karena ego ku saja semua keindahan itu berakhir terlalu cepat. Jujur aku tidak ingin mengakhiri. Namun keputusan ku tetap pada pendirian. Bukan karena aku sudah tidak sayang lagi, kalau dibilang masih sayang, masih. Masih berat, masih. Masih ingin memiliki, aku rasa tidak. Terlalu jauh dan aku tidak mau ada yang tersakiti lagi. Kepercayaan mu oleh hal hal kejawaan menjadikan ku seperti sekarang. Dan nampaknya aku juga mulai percaya. Hahaa.. Sudahlah Khow.. Aku bingung. Intinya terimakasih telah merenovasi ku seperti sekarang ini. Aku bisa diterima nya karena kamu juga. Tulisan ini buat kamu, yang belum sempat terlupakan. Yang aku beri judul Khowwas 1.

Kehilanganmu mungkin membuatku berfikir
Betapa aku menyesalinya
Betapa aku harus merelakanmu pergi
Betapa aku terlalu egois dalam mengambil keputusan
      Waktu tetap berjalan
      Air terus mengalir
      Dan aku... Tetap menyimpan rasa itu
      Tetap sama..
      Seperti dulu..


Minggu, 08 Januari 2017

Ingin Lama Denganmu

Mungkin ini tidak penting bagimu. Bagian yang mungkin membuatmu bosan. Sebab, perasaanmu tak sama dengan apa yang aku rasakan. Percakapan-percakapan tak jelas itu, mungkin hal yang tidak terlalu berarti bagimu. Juga saat aku duduk dibelakangmu sambil mengarahkan jalan mana yang harus kita lewati, sedangkan kamu tidak terlalu mendengarkanku atau mungkin aku terlalu menjengkelkan bagimu. Namun semua itu menjadi penting bagiku. Aku hanya ingin berkata, meskipun kita salah jalan pasti ada jalan yang benar. Dan walaupun kita melewati jalan buntu, tak apa buatku, Karena berlama - lama dengan mu membuatku merasa nyaman. ☺☻😄😆
Mengetahui kabarmu dan memastikan kau baik-baik saja. Adalah salah satu cara yang membuatku tetap bahagia. Ini bukan perkara tetap bersamamu. Bukan juga perihal memilikimu. Lebih dari itu, ini tentang perasaan yang masih sama, perasaan yang hanya kepadamu saja. Hal yang tidak bisa kurasakan kepada yang lain. Tentang hati yang hanya ingin menaruh segala tentangmu di sana. Tentang ingatan yang tak pernah bersedia melepaskanmu terlalu lama.
Kamu bisa mengelak, juga bisa menolak sesukamu. Tidak ada yang salah dengan apa yang kamu lakukan. Kamu bisa memilih dan melakukan apa pun yang kamu mau. Tidak ada yang bisa memaksakan memang. Aku juga tidak ingin memaksakan apa-apa. Bahkan jika kau menjauh sekali pun, aku tidak bisa menahanmu. Aku juga tidak akan memohon agar kamu tetap tinggal di sini. Namun, perasaan yang tumbuh dan terus bertambah bukan hal yang bisa kuperbuat semauku. Perasaan itu tetap saja ada, meski berkali-kali aku pun mencoba mengusirnya.
Barangkali, itulah salah satu sebab kenapa ada orang yang bertahan bertahun-tahun. Kenapa ada orang yang betah meski tak lagi dibutuhkan. Kenapa ada orang bersikeras meski hatinya berkali-kali dihancurkan. Kenapa ada orang tetap ingin menetap meski tak lagi ditatap. Sebab, terkadang cinta lebih kuat dari apa pun. Ia bertahan dan tak pernah mau pergi, meski tak juga memiliki. Ia tetap ingin menjadi ada bahkan pada seseorang yang menganggapnya tiada.
satu hal yang perlu kau tau, Kadang, seseorang dikirim untuk bertemu dengan kita. Hanya untuk mengajarkan kita bahwa menjaga itu tidak mudah. Atau, melupakan itu tidak mudah. ðŸ˜ƒ


                 Anita Indriasari | 08/01/2017

Minggu, 14 Februari 2016

Apakah Kau Setuju????



Mungkin aku hanya bait – bait puisi yang telah hilang. Ketika aku tidak pernah menjemput mu untuk pulang. Bukannya aku memilih untuk pergi sejak kejadian itu, tapi hati ku ini tau kemana akan pulang. Cinta tak harus saling memiliki. Karena bagaimana pun cinta akan pudar dengan sendirinya.
Yang aku rasakan pada mu dulu dan sekarang mungkin sama. Hanya cara ku mengungkapkannya saja yang berbeda. Mungkin dimata mu cara ku memang salah. Setiap kali aku ingin membuat mu tertawa. Aku ingat bagaimana aku harus menyikapi itu. Karena hal ini bukan yang pertama kali terjadi padamu. Maaf aku membuat mu kecewa dengan keputusan ku. Karena sejatinya, Cinta harus tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak harus dilakukan.
          Aku memilihnya karena aku tidak ingin mengakhiri hubungan pertemanan kita. Kita mengenal dari pribadi dan kesan yang sama – sama baik. Aku tidak ingin kebaikan itu tiba – tiba lepas Karena ego ku. Aku tidak ingin menjauhi mu, namun jika kamu akan melakukan itu, pasti kamu akan sangat menyesal. Karena aku berniat baik. Bayangkan jika kita menjalin status yang begitu dalam, banyak resiko yang akan kita ambil. Salah satunya dari semua hal yang berkaitan dengan Dia. Dia orang pertama yang menyinari hari – hariku.
          Bahwa yang aku rasakan berbeda dengan apa yang ku rasakan padamu. Aku tidak ingin melukai mu, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Belati ini sudah tajam dan menusuk jantung mu begitu dalam. AKu bingung. Aku kehilangan arah. Karena kamu sudah tidak dengan ku lagi. Aku seharusnya sadar. Begitupun kamu.
          Mulai sekarang kita buka lembar baru saja. Bukankah terbakarnya hutan tidak pernah membenci api? Seharusnya kamu tahu itu dari dulu. Untuk apa kita sekarang tidak saling sapa? Toh kenyataannya kita pernah tertawa bersama. Kita pernah menggenggam tangan dengan senyuman yang sama. Tidakkah kamu ingat hal itu? Baiklah, mulai sekarang kita akhiri status yang tidak jelas ini dan kembali memulai hari. Iya, Memulai hari dimana aku dan kamu berpandangan selayaknya dulu saat aku pertama mengenalmu. Akan ku bunuh mimpi – mimpi dan harapan itu. Dengan begitu aku tidak lagi merasa bersalah atau merasa seperti dikejar perasaan aneh.


Senin, 18 Januari 2016

Menjalani Keterpaksaan

      Berawal dari kebaikan - kebaikan yang ku terima di tengah kegalauan ku. Aku tidak merasakan bahwa dia yang selalu menyemangati langkahku. Dia yang menerangi jalan ku. Dia yang membimbing ku dan menuntun ku ke jalan yang benar. Dia disisi ku tanpa aku tahu, dia tersenyum padaku tanpa aku menoleh ke arah nya sekalipun. Aku bersi kukh dengan sikap ego ku yang tak mau tau, yang acuh tak acuh dengan kehadirannya. Dia yang seolah menemani ku tanpa aku menyadari kehadirannya. Dia membawakan sejuta cerita indah dalam hidup ku. Hingga aku mengerti apa arti kenyamanan. Aku mengerti apa arti kasih sayang yang tulus.
      Bulan pertama pertengahan Januari kita jalani. Sebagaimana mesti nya. komunikasi saat itu sangat lancar. Dia membantuku mengerjakan tugas, dia membantuku dalam segala aspek kehidupan ku. Aku yang hanya mengira dia sangat baik tanpa alasan tiba - tiba aku mendengar dia sangat mneyayangi ku dengan tulus. Aku berkata sama seperti hari - hari sebelumnya. Bahwa aku menganggap nya kakak ku dan tidak lebih.
      Bulan kedua Februari kita jalani, dia mengajak ku ke tempat temannya yang berulang tahun. Saat itu aku tidak merasa hubungan ku dengannya spesial. Hanya saja teman - teman nya menganggap aku ada hubungan baik dengan dia.Aku bahkan tidak menggubris pertanyaan - pertanyaan dari teman - temannya mengenai aku dan dia. Aku hanya tersenyum dan tertawa.
     Masuk pada bulan ketiga Maret, menurut sebagian orang dimana bulan ketiga adalah bulan penentuan apakah kita menyukai seseorang atau bahkan kita mulai bosan dengan orang itu. Tapi aku sama sekali tidak merasakan apapun dengan dia. Saat yang tepat dia mengatakan hal tidak terduga. Berada di bawah gemerlap lampu kota. Dengan nasi goreng spesial dan irisan telur dadar, ikut menjadikan moment spesial saat itu. Dia ingin menjadikan ku sebagai pasangan nya, dan ingin terbang bersama. Tidak peduli apa jawaban dari ku, secerca harapan indah berada dalam tatapan matanya. Aku tidak mengiyakan. aku hanya menganggapnya lelucon sepele.
     Pada bulan April, aku dikenalkan pada keluarga nya. Dia mengajak ku ke beberapa tempat keluarganya. Aku berfikir ini hanyalah silaturahmi biasa dan main - main biasa. Aku merasa keluarga nya sangat percaya padaku. Ketika suatu saat ada acara ulang tahun bu dhe nya yang mengundang orang - orang gereja untuk datang ke rumahnya. Aku membantunya. Karena memang usia yang sudah lanjut, aku berfikir tidak salahnya jika aku membantu memasak atau beres - beres di rumahnya. Aku juga bertemu dengan mama nya. Dan beliau sangat baik dengan ku.
     Mei, menginnjak bulan ini aku tetap saja tidak mengerti dengan kode - kode apa yang diberikan padaku. Aku juga tetap acuh dengan apa yang dikatakan oleh nya. Aku menganggap gurauan lagi. Namun ketika adik - adik nya mulai akhrab dengan ku, aku merasa menemukan keluarga ku di sini, di rumahnya. Aku yang notabene terlahir sebagai anak tunggal tanpa memiliki saudara. Aku menyukai anak - anak. Apalagi alhamdulillah aku belum pernah kesulitan dalam hal bersosialisasi.
    Juni, aku bertemu dengan papa nya. Saat memasak terkadang aku membantu mencucikan piring. Aku jg terkadang membantunya menyapu dan mengepel. Aku memang orang yang pandai membawa diri. Aku tau mana yang harus aku lakukan di tempat apa saja. Berbulan - bulan aku masih tidak mengerti semua ini. Aku hanya diam. Karena memang aku tidak berfikir ke arah sana. Atau mungkin yang di dalam otakku hanyalah kuliah, kerja, dan jadi yang terbaik di mata orang tuaku. Aku ingin membawa nama baik keluarga ku.

Kamis, 05 November 2015

Ketidakpedulian Yang Dipaksakan

    Aku memang seperti ini. Aku tidak akan pernah menjadi orang lain. Bahkan dalam waktu yang lama. Saat cinta yang lain datang menghampiriku dan menanyakan siapkah aku kembali menerima? Aku akan menjawab lantang  bahwa aku masih mengobati luka ku. Luka ini sangat dalam, sehingga membutuhkan waktu yang lama. Aku tidak takut menjalani cinta yang baru, aku hanya ingin menepi dan berpikir pantas kah aku dicintai. Meski emosi merajai hati. Halusinasi yang berat tak mampu bertahan.   Aku bukan dia, jika suatu saat aku memang bukan seperti biasanya, aku tidak berubah. Aku tidak menjelma sebagai orang lain. Hanya kau saja yang kurang memahamiku. Saat kerinduan tiba aku akan tetap seperti ini. Tetap tersenyum melihat mu dari jauh. Jika kamu menganggapku tidak peduli, itu terserahmu. Karena itu hanya asumsi mu.   Jika akhirnya kau tetap memilih pergi, jangan lupa membawa semua hal yang memungkinkanmu kembali. Perasaan ku pada mu juga tak pernah berubah, mungkin kebiasaan kita saja yang berubah. Serta ada banyak hal yang perlu kau tau, salah satu nya ingatlah bahwa aku adalah seseorang yang telah melepasmu, namun tak pernah mengikhlaskanmu.