Mungkin aku hanya bait – bait puisi yang
telah hilang. Ketika aku tidak pernah menjemput mu untuk pulang. Bukannya aku
memilih untuk pergi sejak kejadian itu, tapi hati ku ini tau kemana akan
pulang. Cinta tak harus saling memiliki. Karena bagaimana pun cinta akan pudar
dengan sendirinya.
Yang aku rasakan pada mu dulu dan sekarang
mungkin sama. Hanya cara ku mengungkapkannya saja yang berbeda. Mungkin dimata
mu cara ku memang salah. Setiap kali aku ingin membuat mu tertawa. Aku ingat
bagaimana aku harus menyikapi itu. Karena hal ini bukan yang pertama kali
terjadi padamu. Maaf aku membuat mu kecewa dengan keputusan ku. Karena
sejatinya, Cinta harus tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak harus
dilakukan.
Aku
memilihnya karena aku tidak ingin mengakhiri hubungan pertemanan kita. Kita
mengenal dari pribadi dan kesan yang sama – sama baik. Aku tidak ingin kebaikan
itu tiba – tiba lepas Karena ego ku. Aku tidak ingin menjauhi mu, namun jika
kamu akan melakukan itu, pasti kamu akan sangat menyesal. Karena aku berniat
baik. Bayangkan jika kita menjalin status yang begitu dalam, banyak resiko yang
akan kita ambil. Salah satunya dari semua hal yang berkaitan dengan Dia. Dia
orang pertama yang menyinari hari – hariku.
Bahwa yang
aku rasakan berbeda dengan apa yang ku rasakan padamu. Aku tidak ingin melukai
mu, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Belati ini sudah tajam dan
menusuk jantung mu begitu dalam. AKu bingung. Aku kehilangan arah. Karena kamu
sudah tidak dengan ku lagi. Aku seharusnya sadar. Begitupun kamu.
Mulai
sekarang kita buka lembar baru saja. Bukankah terbakarnya hutan tidak pernah
membenci api? Seharusnya kamu tahu itu dari dulu. Untuk apa kita sekarang tidak
saling sapa? Toh kenyataannya kita pernah tertawa bersama. Kita pernah
menggenggam tangan dengan senyuman yang sama. Tidakkah kamu ingat hal itu?
Baiklah, mulai sekarang kita akhiri status yang tidak jelas ini dan kembali
memulai hari. Iya, Memulai hari dimana aku dan kamu berpandangan selayaknya
dulu saat aku pertama mengenalmu. Akan ku bunuh mimpi – mimpi dan harapan itu.
Dengan begitu aku tidak lagi merasa bersalah atau merasa seperti dikejar
perasaan aneh.