Perasaan yang kita punya adalah sama, hanya saja diam lebih baik daripada diungkapkan. Selama ini yang kita jalani hanyalah seperti seorang yang kesepian dan mencoba menghibur dirinya. Kita sama-sama ingin bersatu. Namun kita hanya bisa yakin pada suatu saat nanti, kita akan di pertemukan kembali. Karena perpisahan bukanlah akhir dari pertemuan, melainkan adalah nasihat agar kita akhrab saat kita bertemu kembali.
Aku tau kau mencoba acuh untuk semua rasa yang kau simpan. Hingga tiba saat nya kau pun mengerti kenapa aku lebih memilih tertutup saat dengan mu. Aku tak menyangka sekarang hal ini menjadi lebih sulit dari apa yang ada di pikiran ku. Aku telah menghapus bayangan mu dari hatiku, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku berusaha mengubah nama mu menjadi namanya. Aku mencoba melupakan kejadian masa lalu yang belum berujung. Aku mencoba tidak mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan. Aku memilih diam. Aku memilih acuh dengan risiko kau dan aku yang terluka. Setidaknya aku masih menghargainya sebagai saudara mu dan sebagai pacarku.
Apa yang aku lakukan salah? Apakah aku membuat hatimu semakin sakit? Apa aku memang tak pantas memiliki kebahagiaan bersamamu? Apa lagi yang kau tunggu saat semua kesulitan ini hampir berakhir? Aku ingin mengakhiri ini semua. Aku bungkam hati dan mati rasa. Aku tak ingin mempersingkat hubungan ini, aku tidak mau hubungan ini berlalu begitu saja. Semua yang telah aku lakukan tidak ternilai di mata mu. Mungkin ada benar nya jika memang dari awal kita tidak usah memendam rasa dan tidak perlu mengungkapkan isi hati kita masing – masing. Jika akhir dari kenyataan ini sungguh menyedihkan. Aku mencoba tak mau tau tentang ini, tapi bagaimana pun aku sudah terlibat. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita yang menjalani nya. Aku tidak tahu sampai kapan akan terus begini. Bagiku melihat mu saja sudah cukup mengobati rasa ku pada mu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Ketika doa – doa yang kita panjatkan belum juga terdengar oleh-Nya.
Ketika aku mulai mengerti arti nya mencintai. Ketika aku mulai paham tentang segala rasa iba yang menurutnya sama dengan cinta. Rasa terimakasih yang menurutnya sama dengan sayang. Aku tidak ingin menyalahkan mu atas hal ini. Aku yang memulai nya, dan harus aku juga yang harus mengakhirinya. Ini sudah terlambat jika ingin memperbaiki semua nya. Kau telah memilih mundur dan melupakan ku. Begitupula aku yang memilih fokus pada saudara mu hanya untuk mengubur dalam – dalam kenangan mu. Aku takut tidak bisa bertemu kembali dengan mu. Meskipun demikian, jalan ku tetap kukuh dengan apa adanya diriku.
Aku hanya bisa berharap kelak kau menemukan cinta sejati mu. Yang mampu memberikan kasih sayang tulus kepada mu, bukan semata – mata hanya melihat mu dari segi atasnya saja. Aku berterimakasih atas segala rasa yang kau beri, segala kasih dan doa mu meski kau utarakan dalam diam. Terimakasih telah mengajarkan ku arti cinta yang sesungguhnya, arti perjuangan yang sesungguhnya. Serta arti pengorbanan yang mulia. Aku mencintaimu dalam diam hingga aku dan kau menjadi kita.
Aku tau kau mencoba acuh untuk semua rasa yang kau simpan. Hingga tiba saat nya kau pun mengerti kenapa aku lebih memilih tertutup saat dengan mu. Aku tak menyangka sekarang hal ini menjadi lebih sulit dari apa yang ada di pikiran ku. Aku telah menghapus bayangan mu dari hatiku, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku berusaha mengubah nama mu menjadi namanya. Aku mencoba melupakan kejadian masa lalu yang belum berujung. Aku mencoba tidak mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan. Aku memilih diam. Aku memilih acuh dengan risiko kau dan aku yang terluka. Setidaknya aku masih menghargainya sebagai saudara mu dan sebagai pacarku.
Apa yang aku lakukan salah? Apakah aku membuat hatimu semakin sakit? Apa aku memang tak pantas memiliki kebahagiaan bersamamu? Apa lagi yang kau tunggu saat semua kesulitan ini hampir berakhir? Aku ingin mengakhiri ini semua. Aku bungkam hati dan mati rasa. Aku tak ingin mempersingkat hubungan ini, aku tidak mau hubungan ini berlalu begitu saja. Semua yang telah aku lakukan tidak ternilai di mata mu. Mungkin ada benar nya jika memang dari awal kita tidak usah memendam rasa dan tidak perlu mengungkapkan isi hati kita masing – masing. Jika akhir dari kenyataan ini sungguh menyedihkan. Aku mencoba tak mau tau tentang ini, tapi bagaimana pun aku sudah terlibat. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita yang menjalani nya. Aku tidak tahu sampai kapan akan terus begini. Bagiku melihat mu saja sudah cukup mengobati rasa ku pada mu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Ketika doa – doa yang kita panjatkan belum juga terdengar oleh-Nya.
Ketika aku mulai mengerti arti nya mencintai. Ketika aku mulai paham tentang segala rasa iba yang menurutnya sama dengan cinta. Rasa terimakasih yang menurutnya sama dengan sayang. Aku tidak ingin menyalahkan mu atas hal ini. Aku yang memulai nya, dan harus aku juga yang harus mengakhirinya. Ini sudah terlambat jika ingin memperbaiki semua nya. Kau telah memilih mundur dan melupakan ku. Begitupula aku yang memilih fokus pada saudara mu hanya untuk mengubur dalam – dalam kenangan mu. Aku takut tidak bisa bertemu kembali dengan mu. Meskipun demikian, jalan ku tetap kukuh dengan apa adanya diriku.
Aku hanya bisa berharap kelak kau menemukan cinta sejati mu. Yang mampu memberikan kasih sayang tulus kepada mu, bukan semata – mata hanya melihat mu dari segi atasnya saja. Aku berterimakasih atas segala rasa yang kau beri, segala kasih dan doa mu meski kau utarakan dalam diam. Terimakasih telah mengajarkan ku arti cinta yang sesungguhnya, arti perjuangan yang sesungguhnya. Serta arti pengorbanan yang mulia. Aku mencintaimu dalam diam hingga aku dan kau menjadi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar