Kenanganmu terlalu indah untuk dilupakan, namun terlalu sakit untuk dikenang. Bayangan mu masih terlihat dalam pandangan ku. Senyummu masih sama seperti awal kita bertemu. Tawa mu juga masih terngiang dalam telingaku. Setiap langkah ku masih terukir indah kenangan mu. Jika saja waktu itu aku tidak memilih pergi darimu, andai saja aku tidak membencimu untuk melupakan mu, mungkin saja aku sudah bersama mu. Menggenggam erat tangan mu dan berjalan bersamamu. Menuju kebahagian kita, bukan kebahagiaan masing – masing.
Kini hanya tinggal kenangan masa lalu yang sulit untuk di ulang. Bahkan untuk bertemu denganmu saja itu rasanya tidak mungkin. Aku menyesal pada akhir kisah ini. Untuk mengucapkan “hai” saja aku rasa mustahil. Ingin ku ulang semua dan ku putar waktu. Itu tidak mungkin. Sungguh tidak mungkin. Aku menyadari salah ku sejak awal. Aku akui sekarang bukan saatnya berjalan mundur dan tetap mengingat mu. Kini saatnya berjalan maju karena aku sudah menuai apa yang telah aku tanam dulu.
Aku mungkin bisa menganggap semua tidak pernah terjadi. Aku sanggup jika harus berpura-pura mencintai seseorang yang telah aku pilih menjadi matahariku. Namun bayang mu tetap terkenang dan abadi dalam hatiku. Meskipun kita tidak saling sapa untuk saat ini,aku berharap esok entah kapan itu kita bisa berbahagia dalam satu waktu meskipun bukan kita berdua yang membuat kebahgiaan itu terjadi. Sebab kebahagiaan ini bukan hanya kita yang mencarinya,namun orang lain juga berhak bahagia terutama untuk orang di sisi kita.
Hancur sudah segala hubungan yang telah kita bina. Lebur semua kisah silam masa lalu kita. Hanya ada perih dan puing – puing kesedihan diantara remukan jantung ini. Dalam sisi ini aku bersedih, namun di sisi lain aku harus menjadi cahaya bagi orang yang telah mengasihi ku setulusnya. Sungguh sulit menjadi dua pribadi dengan penuh kepalsuan cinta. Terlebih lagi jika orang yang menyayangi kita dengan tulus dan penuh tanggung jawabnya sangat menginginkan kita bahagia bersamanya. Sekali lagi ini soal kenyamanan. Bukan soal materi atau soal martabat yang dengan mudah bisa lenyap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar