Senin, 22 Juni 2015

masa lalu

                Mungkin aku bisa melupakan seseorang, tapi kenangan manis tentang dia pasti abadi. Karena Tuhan menciptakan otak untuk mengingat, bukan melupakan. Ciptakan kenangan baru untuk melupakan kenangan masa lalu. Aku ibarat kupu – kupu yang lupa cara nya untuk terbang. Sebab ,kenangan mu terlalu indah untuk ditinggalkan. Karena ceriamu masih ada di relung hati ini. Aku terpaku menatap langit biru yang tak kunjung padam. Sekedar apa kabar saja mungkin taka apa bagiku dan bagi pasangan ku. Itu hanya sapaan rindu yang sempat berkobar dulu. Sekarang mungkin yang ada hanya suara ku saja yang tak ingin kau dengar.
              Doa terbaikku akan selalu menemanimu setiap detik detak jantungmu. Karenamu aku belajar untuk tidak pernah berhenti dengan apa yang telah aku mulai. Karenamu, aku sanggup berjalan di atas sesalku. Dan karena mu juga ,aku melepaskan harapan yang telah pupus. Masa lalu tidak bisa di ulang, hanya bisa dikenang. Butuh lebih dari sekedar pergi untuk melupakanmu, dan aku tak pernah tahu apa itu.
             Aku belajar untuk tidak banyak berharap, karena harapan pun bisa saja pupus. Aku belajar untuk selalu bersyukur dengan apa yang aku dapat, karena meski sedikit yang aku tanam maka itulah yang aku tuai. Bercanda dengan mu setelah sekian luka, tetap saja luka mu akan tetap ada. Aku tidak akan melupakan mu. Aku bahkan akan sering – sering mengunjungimu hanya sekedar untuk menunjukkan padamu. Inilah aku, dengan kelemahan ku. Dengan segala sisa puing – puing ini, aku bangga dengan apa adanya diriku yang telah bangkit kepada kebahagiaan.
                 Aku mampu berdiri sendiri dengan uluran tangan sucinya. Dengan senyumannya yang mendinginkan ku. Dengan tatapan matanya yang seolah berbisik “aku akan menciptakan kenangan baru untuk mu”. Karena sekarang aku benar – benar berdiri tegak dan mengacuhkan duri – duri yang kau tinggalkan.

Jumat, 19 Juni 2015

Bersamamu

       Aku ingin melihat pemandangan ini. Bersama mu. Di waktu esok dan selamanya. Hingga maut memisahkan kita. Hingga rambut kita mulai memutih. Hingga nafas telah terengah. Hingga kulit tak lagi kencang. Hingga gerak tak lagi cepat. Hingga pandangan tak lagi fokus. Hingga pendengaran tak lagi normal.
       Sayu mata mu membuat bibir ini berhenti berucap. Yang ingin ku katakan hanyalah aku mencintai mu.selamanya.. ajari aku untuk tetap mengingatmu. Ajari aku untuk tetap menatap mata indah mu itu. Karena di dunia yang sempit ini, hanya ada mata yang paling indah. Yaitu mata mu. Mata yang pernah melihat keagungan dunia bersamaku. Mata yang pernah menangis saat aku tak lagi di sisi mu. Mata yang pernah menatap ketidak sempurnaan ku. Bahkan berdua kita jalani hari demi hari,  warna demi warna. Menggenggam erat tangan mu. Dan tak kan pernah ku lepaskan.
       Mungkin fajar akan tenggelam hari ini, namun sinar nya kan memantulkan pada rembulan. Seperti akan berucap suatu kalimat dimana tidak akan ada umat insan yg mengerti. Itulah cinta yang semestinya tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata. Yang tidak bisa di agungkan begitu saja dengan kalimat. Yang tidak akan bisa dipahami.
        Aku tidak ingin waktu berlalu saat aku bersama mu. Aku ingin menghentikan waktu dimana kita berdua sedang bersama. Saling memahami arti kebersamaan. Saling menyayangi satu sama lain. Aku tidak mengerti alasan kenapa aku begitu mencintaimu. Begitu senang melihat mu berada di dekat ku. Dan aku merasa tenang melihat senyummu.
                 Anita Indriasari | 19 / 06 / 2015

Kamis, 18 Juni 2015

Perhatianmu Canduku

       Kau mewarnai hariku. Kau mengisi celah hidupku. Aku menyayangi mu. Berbeda dengan yang dulu. Kali ini rasa nya aneh jika tidak bertemu dengan mu. Kita selalu menghabiskan malam – malam panjang berdua. Hanya tawa mu yang masih terngiang di telingaku. Teriakmu semalam masih terdengar dalam sanubariku. Senyuman mu menyembuhkan lukaku.
         Kau yang disana, duduk termenung menunggu hari libur. Kapankah kita bisa membagi keceriaan bersama? Kapan kau dan aku berbagi canda tawa bersama? Kapan kita menandai hari – hari indah kita dengan sebuah gambar? Kapan kau gandeng tangan ku lagi saat aku marah? Kapan kau hibur saat hariku lelah? Hanya dirimu yang mampu mengisi kekosongan ini.
       Posisi mu sekarang, kau melengkapi setiap hari – hariku. Selalu rutin mengucapkan selamat pagi. Selalu mengingatkan makan. Selalu mengatakan sayang.Sekecil apapun perhatian kalau itu rutin dilakukan. Pasti akan menjadi candu bagi orang yang diberi perhatian. I love you so much..

Sabtu, 13 Juni 2015

Rasa Yang Muncul Sendirinya

         Aku telah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Mungkin awalnya sulit, namun lama – kelamaan akan terbiasa dan menyenangkan. Aku telah menjalani apa yang aku pilih. Aku sudah mencoba dan berusaha sekerasnya untuk membuka hatiku pada saudaranya. Dan akhirnya, rasa itu muncul tiba – tiba. Rasa yang begitu kuat. Rasa untuk tidak ingin kehilangannya. Rasa cemburu jika ia dihubungi mantannya. Rasa rindu jika tidak bertemu. Rasa sayang yang sama tulus nya jika ia jauh. Rasa penasaran saat ia tidak ada di sisiku.Itu semua yang ku rasakan telah muncul begitu saja. Sekali lagi itu tidak mengganggu pikiranku. Tidak sekalipun terlintas dalam otakku bahwa aku akan bersama nya dan merayakan ulang tahun mama nya. Bahkan aku sangat dekat dengan keluarga nya ataupun teman - temannya. Aku tidak pernah berfikir aku akan menjalani hubungan yang serius dengan nya. Apalagi sampai berkenalan dengan keluarganya.
       Mungkin memang benar kata orang jawa,”witing tresno jalaran saka kulina”. Dulu aku berfikir akan menyudahi kisah ini. Namun Tuhan berkata lain, hingga saat ini aku merasa kurang saat ia jauh dari sisi ku. Aku ingin mencintainya seperti dia mencintai ku. Aku ingin menyayangi nya sama seperti dia mencintaiku. Aku ingin tulus seperti dia yang selalu begitu dengan ku. Dia berkharisma, dia hangat, dia ramah, dia baik hati. Aku tidak ingin mengecewakannya. Aku tidak ingin membuat dia sakit hati. Seiring bertambah nya usia. Aku mulai menjalani hubungan berat. Tapi hanya dia lah yang aku inginkan.
        Rasa sayang itu muncul tiba – tiba. Tidak bisa di pungkiri lagi. Aku menjalani dengan sepantasnya. Aku memilih jalanku seperti ini dan menggandeng tangannya. Aku bersikeras untuk berkorban untuknya. Bukan pengorbanan kecil, ini perihal makan makanan pedas nya karena dia akan sakit jika makan itu meskipun aku juga tidak suka makan pedas. Ini juga bukan perihal dia berjanji akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Dia akan menyayangi ku sepenuh hatinya.
          Aku menyayangi nya melebihi apapun. Aku tidak ingin kehilangannya. Dia sangat berarti. Dia sangat special. Topiknya sekarang, kita harus belajar memahami tentang kita. Hubungn kita yang terlanjur seperti ini. Namun keterlanjuran ini membahagiakan.

Selasa, 09 Juni 2015

Kejutan Bagi Para Pecinta

          Kata orang, cinta adalah kejutan. Kejutan kepada semua orang yang berkasih sayang. Dan hari ini kamu menjadi kejutan yang paling indah. Jika kita mengenal  sejak lama mestinya kita sudah menjalin hubungan bertahun – tahun dan tidak akan ada perasaan yang tumbuh antara aku dan saudaramu. Mungkin inilah cara terbaik Tuhan memberi kejutan.
           Jauh sebelum aku mengenalmu. Aku telah mengetahui mu. Tapi sebagai orang yang biasa saja. Aku melihat mu saja tidak pernah meletakkan pada penyimpanan sensorik dalam otakku. Seperti halnya melihat mu berjalan, itu tidak ada pengaruhnya untukku. Yang ku lihat hanyalah seorang laki – laki biasa sama seperti laki – laki lainnya.
          Dulu saat kau pikir kita pertama bertemu, namun bagiku itu bukanlah yang pertama memang. Aku pernah melihatmu sebelumnya. Bahkan jauh disaat aku menjadi karyawan disana. Pada pertemuan selanjutnya, aku mengira aku termasuk orang yang beruntung. Bisa melihat orang yang sama dengan waktu yang berbeda. Aku piker ini kebetulan. Tapi ini sangat berkaitan dan banyak hal kebetulan lainnya yang ku rasa.
         Semua terungkap saat aku dan kamu telah  menjadi kami. Menjalin kisah kasih, saling menyayangi satu sama lain. Kini aku tak akan lagi berbelok. Nampak nya aku telah menemukan titik terang dalam jiwaku. Rasa ini yang awalnya biasa, menjadi semakin menggebu – gebu.
         Sekali lagi teruntuk orang yang ku sebut sebagai penerang jiwaku. Andai aku tahu kebenaran ini dari awal. Mungkin kamu dan dia tidak saling mengenal. Mungkin dia tidak mengecewakanmu. Mungkin saat ini aku telah bersamamu. Sedang keindahan Tuhan terdapat padamu. Teruntuk orang yang berkorban apapun untukku. Dan serta merta sabar dengan segala ego ku. Aku meminta maaf untuk mengacuhkan dirimu yang sebenarnya selalu ada untukku.
         Seharusnya aku sadar, di belakangku hanya ada kamu yang mendorongku saat aku terpuruk. Disamping kanan ku hanya ada kamu saat aku bimbang, untuk membangkitkan semangatku. Di sebelah kiri ku selalu ada kamu, yang mendengarkan keluhan – keluhan manja ku. Dan kamu, hanya ada kamu di depan ku, tersenyum lebar padaku seolah berkata,” Aku beruntung memilikimu

                     Anita Indriasari | 08/06/2015

Minggu, 07 Juni 2015

Kepadamu Yang Pernah Menghampiriku

          Entah kenapa angin malam ini begitu menusuk tulang. Yang berhembus seenaknya. Serta waktu terus berputar, seketika bayanganmu tertinggal di belakang. Aku menyaksikan kehadiranmu dan tanpa sadar telah lama kau meninggalkan jejak mu. Kau lah orang yang memulai kisah ini, kau pulalah yang menyudahi kisah ini.Apalagi yang kau cari setelah meremukkan jantung ini? Apalagi yang kau mau setelah membuat hatiku berkeping – keping? Jika kau memang menginginkan ku, mengapa kau menyudahi cerita kita. Mengapa kau marah jika aku bersamanya. Bukankah kita sudah berakhir? Bukankah kau juga sudah ada yang mengisi? Mengapa kau membenciku? Ini lucu,, sangat lucu. Kau yang memutuskan tuk pergi,lalu kenapa kau marah?
          Inilah sebab aku bersamanya, agar aku tahu keadaanmu. Agar aku tahu kau baik – baik saja. Agar aku bisa memandangimu lewat dia. Agar aku bisa tersenyum melihatmu tertawa. Agar aku bisa menatapmu lebih dekat. Tahukah kamu saat aku tidak bersamamu ,aku merasa bisa menemukan orang lain seperti mu. Tahukah kamu ketika aku bertemu dengan mu ada rindu yang menyesakkan dadaku. Tahukah kamu saat ini aku sedang ingin memelukmu. Meraih cita – cita, saling menggenggam erat tangan kita.
           Aku ingat betul saat hari ulang tahun mu bulan November lalu. Aku ingin sekali menjadi  orang pertama yang mengucapkannya di hari special mu. Aku ingin menjadi orang terpenting dalam hidupmu. Menghabiskan waktu berdua, bersama, selamanya. Namun aku sadar, aku siapa. Kaupun menganggapku apa.Aku hanya sebatas cerita duka yang membawamu pada amarah. Aku hanyalah seuntai ranting yang kapan saja bisa rapuh.Aku hanyalah seutas tali yang suatu saat bisa putus. Aku hanyalah.. ah sudahlah.. itu tidak lagi penting bagimu. Ini hanya cerita sedih yang telah berakhir.Ini hanya kisah lampau yang telah di buang jauh serta kenangan yang semestinya dikubur dalam – dalam. Dan segera dilupakan.

               Anita Indriasari | 07/06/2015

Senin, 01 Juni 2015

Awal Yang Baik Belum Tentu Berakhir Baik Pula

      Awalnya aku tidak pernah menyangka akan begini.Aku tidak pernah menduga jika akan berakhir seperti ini.Yang ku tahu dulu aku tidak memandangnya dengan jantung berdebar. Aku tidak pernah tersenyum salah tingkah jika mellihat nya. Ini sungguh jauh di luar kemampuan ku. Kami hanya sebatas rekan kerja yang senang bercerita tentang kisah cinta. Kisahnya dengan orang lain yang kandas. Begitupula aku yang saat itu sedang dekat dengan salah satu teman kampus ku. Kita sering berbagi canda tawa. Seperti sepasang sahabat, yaa sahabat baik. Bahkan sangat baik.
   Kita hanya sebatas rekan kerja yang banyak meluangkan waktu bersama, banyak bertemu satu sama lain. Mulai dari hal kecil yang sering kita lakukan bersama, hingga hal besar seperti layaknya seorang bandit. Banyak perhatian – perhatian khusus baik dariku dan darinya. Banyak kebaikan – kebaikan yang ia lakukan untuk ku hingga aku tidak mampu membalas nya. Suatu ketika aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku tidak bisa menyebut perasaan itu apa. Yang jelas, sangat menyesakkan dadaku ketika aku tidak berkomunikasi dengannya. Ada sedikit rasa sakit jika ia membagi senyumannya kepada orang lain. Ada sedikit rasa cemburu ketika ia berinteraksi dengan orang lain yang ku tahu orang tersebut menginginkannya.
     Hingga akhirnya aku sadari bahwa aku menaruh rasa kepadanya. Tidak  bisa dipungkiri lagi aku menyukainya. Tapi perasaan ku tidak sepenuh saat ini, ketika itu aku juga mengenal sosok teman kampus yang sama asyik nya. Di sisi lain aku tidak mau menghancurkan persahabatan kami. Aku tidak mau jauh dari sosok sahabat baik seperti dia. Bak bertemu malaikat, dia ibarat bunga mawar tanpa duri. Dia sangat special. Aku sangat mengagumi nya dan ingin menggenggam erat hingga tak ku lepaskan.
      Hari demi hari kita lewati, tiba saat nya teman kampus ku menambah umur. Aku tau dia juga special, aku memberinya kue ulang tahun di hari dia ulang tahun. Dan semenjak itu dia berubah dan menjaga jarak denganku. Aku tidak tahu salah apa yang aku perbuat. Semakin lama- hubugan kami semakin jauh. Aku mencoba mendekatinya, dia berusaha pergi. Kejadian – kejadian yang seharusnya menyenangkan seketika berubah drastis menjadi ironi. Entah dosa apa yang ku perbuat sehingga ia membenciku. Mungkin dulu kita terlalu dekat atau sangat dekat. Hingga kini kita jauh tanpa sempat aku mengatakan selamat tinggal. Semakin aku kejar, dia semakin jauh. Semakin aku tahan, dia semakin berontak.
      Pada suatu ketika, aku tidak tahan dan aku mengatakan bahwa aku menyukainya. Saat itu aku berharap jawabannya “iya”. Namun jauh diluar harapan. Dia malah menyuruhku pergi dari kehidupannya dan tidak ingin aku mengganggunya. Yang jelas dalam obrolan itu ada kata – kata jika ia juga menyukaiku, tapi semuanya telah terlabat. Aku juga tidak mengerti arti dari kata “terlambat” yang ia maksud.
     Ada kelegaan dalam hati, namun dalam diam aku tetap tidak mengerti akan keangkuhannya. Dan dimulai dari hari itu aku selalu mengungkapkan isi hatiku lewat tulisan. Setidaknya aku telah mengungkapkan apa yang telah aku rasakan meskipun tidak ia dengar. Meskipun ia tidak tahu bahwa aku menunggunya. Aku mencoba menuliskan sesuatu tentangnya ketika aku rindu. Aku menulis tentang nya saat aku bosan dan ketika aku terpuruk. Ada sepucuk surat untuk nya yang saat ini telah lepas dari genggamanku:
         “Aku tidak ingin kamu menjadi kami. Aku hanya ingin menjadi tempat curahan dimana akhir dari perjalanan panjang yang telah kau lalui. Aku ingin kamu menjadi sinar bulan pada malam hari yang nampak indah dalam balutan langit gelap. Aku tak ingin memiliki mu.Aku hanya ingin melihat mu tersenyum karena aku. Namun yang ku bisa hanya mengenangmu dari jauh. Serta mendoakan kebahagiaan untuk mu. Bagiku, kau adalah bunga indah yang telah layu. Akan ku tutup sepenggal kisah ku bersamamu. Terima kasih untuk teka – teki yang belum terjawab. Dengan ini aku bisa belajar bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban.”.