Selasa, 29 Juli 2014

PEDIH









Siapa yang ingin di hidupnya mengalami pertengkaran. Semua orang tak akan mau bertengkar, apalagi dengan orang yang di kasihinya. Tidak ada. Semua orang ingin hidupnya tentram dan damai tanpa memiliki masalah. Ya.. This is Life.. Itu semua manusiawi. Masalah sering datang, begitupun dengan kebahagiaan. Seperti satu kesatuan utuh yang tak pernah berhenti seiring berputarnya roda kehidupan. Mempunyai masalah dengan teman, sahabat, saudara, orang tua, suami atau istri, bahkan orang lain yang belum tentu kita mengenalnya itu membuat hidup kita merasa tidak beruntung. Itulah ujian hidup. Terjadi secara spontan, tanpa disadari dan tanpa terfikirkan. Satu hal yang bisa orang dewasa katakana adalah “sabar”. Satu kata yang belum ada artinya. Kata yang seolah di anggap enteng oleh kalangan muda.Kata yang tak pernah ada alasan mengapa berlaku seperti itu.
Aku,namaku Anita Indriasari. Seorang anak tunggal yang tertatih mencari jejak ayah dan ibunya. Semua kisahku berawal dari sebuah keluarga sederhana yang mencoba tersenyum karena melihat ayah dan ibuku berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Aku bangga karena terlahir di keluarga yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.Saat itu usia ku 16 tahun. Aku mulai menginjak SMA di MAN Malang 2 Batu.
Malam hari aku melihat ibu berteriak pada ayah karena ayah ku memperlakukan ibuku dengan kasar. Ayahku menyeret kaki ibuku sperti penggembala menyeret sapinya. Aku hanya terdiam, aku tak mampu berkata apapun, aku harus bagaimana,aku tidak tahu. Aku hanya bisa menangis. Aku hanya bisa menatap kesedihan ibuku dari jauh. Kemudian ayah mengambil balok kayu dan memukulkannya pada punggung ibuku.Aku ingin berteriak,Aku ingin membela keadilan pada ibuku. Yang saat itu muncul dipikiranku hanya mengambil pisau dan membunuh ayahku. Ingin sekali aku berteriak,
”Itu bukan ayahku”.
Bukan ayah yang ku kenal, bukan ayah yang selama ini menyayangiku. Bukan pula sosok ayah yang selalu menegurku jika aku berbuat salah. Namun aku hanya diam tak mampu bergerak. Badan terasa kaku.
Pagi itu sekitar jam 05.00 tepatnya tanggal 15 September 2010. Aku melihat dari balik jendela kamarku sosok seorang wanita menangis terisak-isak. Wanita itu adalah ibuku. Ia sangat sedih sambil membawa tas berisi baju-baju nya. Aku beranjak dari tempat tidurku dan aku segera bertanya,
”Ibu mau kemana?”.
 Dengan nada lembut dan suara parau ia menjawab,
”ibu mau pergi nak. Ibu akan mencari tempat tinggal yang lebih baik”.
 Ibu hanya berkata seperti itu dan meninggalkan aku yang masih menatapnya sendu.
Setelah beberapa bulan aku mengetahui jika ayah dan ibuku bercerai.Aku sangat terpukul atas kejadian lalu. Aku menyalahkan diriku, andai saja aku membawa ibu keluar saat itu juga. Andai aku melapor pada RT / RW setempat. Tidak akan seburuk ini.
Kejadian itu membuat ku menjadi gadis pemberontak. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku tidak bisa menjalani ini. Aku ingin ini semua berakhir. Aku tidak pernah merasa sekecewa ini. Aku mulai muak dengan semua ini.
Kemudian aku mendengar kabar bahwa kakak sepupuku di Bojonegoro akan menikah.Aku gembira karena aku akan bertemu ibuku disana. Aku sudah merencanakannya dua hari sebelumnya. Aku mencurahkan isi hatiku dan masalahku kepada temanku di sekolah sekaligus berpamitan kepada mereka. Aku menjual handphone ku kepada teman ku seharga Rp.100.000,00 dan aku di pinjami sebuah handphone untuk pegangan. Saat itu tekad ku telah bulat. Aku membawa ransel dan dalam kondisi berpakaian seragam pramuka.
 
 
Di perjalanan ke Bojonegoro, perceraian dan pertengkaran hebat itu masih terbayang dalam benakku. Sampai kapan hidupku seperti ini. Ini terlalu sulit untukku. Aku mati rasa, aku tak mampu memilih ayah dan ibu. Jika bisa, aku tak akan memilih.Aku hanya ingin mereka berdua. Tak ingin satu. Aku bungkam mulut serasa ingin menangis.
Satu tahun terlewat. Aku bisa bangkit,aku mempunyai kekuatan untuk menghadapi ini. Kisah pahit itu aku pendam dalam – dalam dan ku jadikan sebagai masa lalu yang buruk. Meskipun aku tampak ceria,dalam hatiku tersimpan banyak hal buruk. Saat ujian kenaikan kelas, aku ingin ayah ku mengambilkannya untukku. Namun nyatanya raport itu masih aku yang mengambilnya sendiri. Terkadang aku sedih melihat teman-teman ku bersama orang tua nya yang sedang tersenyum bahagia. Aku iri kepada mereka yang nasib nya masih beruntung bisa tertawa bersama orang tuanya karena masih bersama.
                Aku beranjak dewasa. Ibuku yang notabene tinggal kost di rumah teman kerja nya. Ia bisa tersenyum bahagia karena seorang pria mapan menikah sirri dengan ibuku. Namun ia tak bahagia sepenuhnya karena yang menikahinya adalah pria yang masih mempunyai istri dan tiga orang anak. Pria itu berjanji akan menghidupi aku dan ibu. Ia berjanji akan adil kepada istri tua nya. Kemudian Papa Imam (suami sirri ibuku) mengontrakkan rumah selama satu tahun serta barang-barang yang lain. Hari-hari indah itu dijalani ibuku dengan suami sirri nya. Papa Imam adalah lelaki yang manja, setiap bertemu dengannya dia selalu memintaku untuk memijat badannya. Aku menyayangi Papa Imam selayaknya Papa kandungku. Dia orang yang baik hati, dan juga perhatian kepada keluarganya. Dia tidak pernah membandingkan aku dengan anak kandungnya. Ia juga menafkahi aku dan ibuku selama satu tahun. Dia sosok papa yang baik. Ibuku sering membanggakannya.

(BERSAMBUNG KE PART 2)