Setelah ayahku resmi dengan status
duda, aku masih tak percaya jika ayah ku menggoda wanita lain. Mami Ifa, dia
seorang wanita sabar asli Lamongan yang juga menjanda dengan memiliki seorang
putri. Setelah lama berkenalan dengan mami Ifa, ayahku berencana menikahinya.
Namun itu hanya janji palsunya. Mami Ifa telah menitipkan Ayu (putri sulung
mami Ifa) selama satu tahun lebih dirumahku. Usia Ayu masih 14 tahun. Dia belum
bisa beradaptasi dengan suasana dan kerasnya kehidupan kota. Sehingga aku yang
harus mengawasinya. Hari-hariku dengannya semakin baik dan hampir tak pernah
ada pertengkaran meskipun saling berbeda pendapat. Dia anak yang sopan dan
pendiam. Aku menyayanginya seperti adik kandungku sendiri.
Kembali
pada mami Ifa yang saat itu sudah merasa cocok dengan ayahku. Aku tak mengerti
jalan pikiran mereka yang masih seperti anak muda, aku bahagia dengan cerita
mereka. Mamiku juga bersifat sama, ia terlalu membanggakan ayahku dengan semua
kelebihannya. Selama beberapa bulan ia belum juga dinikahi sah oleh ayahku
dengan alasan ayah masih tidak memikirkan hal itu.Karena sedang ada tanggungan,
membayar sekolahku dan sekolah Ayu serta kebutuhan lalinnya. Kerap kali ia
tidak menggubris omongan mami Ifa yang ingin segera diberi kepastian. Aku
mencoba tak mau tahu urusan mereka, aku mencoba acuh tak acuh dengan semuanya.
Seringkali aku berfikir kenapa aku diberi cobaan seperti ini. Aku tidak tahan
lagi Tuhan, aku ingin semuanya baik-baik saja. Aku ingin seperti teman –
temanku yang lain, yang hampir tak punya
masalah dengan keluarganya. Yang mendapat kebahagiaan dari keluarganya,
bukan dari keluarga yang berantakan seperti ini.
Keadaanpun berubah dengan
berjalannya waktu. Saham yang dikelola Papa Imam sedang bangkrut dan ia tidak
ada job. Terpaksa ia harus menganggur
sementara waktu. Hingga ia hanya meminta uang pada ibuku.Ibukupun selalu
memberi uang pada Papa Imam meskipun ia tidak pernah mencukupi uang belanja. Ia
merasa kasihan pada Papa Imam, sampai cincin 4 gram pun telah ia jual untuk
melunasi hutang – hutang Papa Imam. Selama berhari – hari ibuku terus menunggu
Papa Imam pulang. Karena seudah seminggu lebih handphone nya tidak bisa
dihubungi. Bukan karena nomornya tidak aktif tapi karena tidak di angkat dan
sms pun tidak dibalas.
Hingga suatu hari Papa Imam datang
kerumah kontrakan ibuku bersama seorang wanita,
”Mbak Narti, gak perlu memikirkan mas Imam lagi. Dia sudah memilih aku untuk
menjadi istrinya. Selama ini mas Imam sengaja tidak pulang karena menginap
dirumahku!”
Suara itu tiba-tiba membuat hati
ibuku bergetar dan ingin sekali rasanya
menangis. Ibuku sudah tidak kuat lagi dengan perlakuan Papa Imam saat itu,yang
berani membawa wanita lain dan mengaku bahwa itu istri nya yang baru. Dengan
berat hati,ibuku menerima kenyataan pahit itu, ia berfikir bahwa laki-laki yang
dihadapannya saat itu adalah lelaki bajingan yang berlaku seperti binatang. Tak
hanya itu anaknya yang bernama Desi pun turut berkata,
“Aku memilih Ia sebagai ibuku
karena dia yang pertama aku kenal. Jadi panjenengan
tidak usah menghubungi ayahku lagi”
Semakin menangis ibuku mendengar
kata anaknya saat itu. Dia kemudian sadar bahwa ia hanya istri sirrinya.Jadi
bagaimanapun dan alasan apapun tidak mempan lagi untuk membawa serta mengelak
menerima kenyataan ini. Hatinya merasa sakit sekali, tidak hanya sakit,
kecewapun ia rasakan. Berhari-hari ia tidak makan dan selalu memikirkan
kejadian itu. Sungguh tega suaminya mengkhianati ibuku yang lugu dan sabar
sedemikian rupa. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Hari raya pertama yang kujalani di
rumah ayahku, bersama Mami Ifa dan Ayu membuat ku merasa tenang. Meskipun ada
sedikit beban dibenakku, aku mencoba menghilangkannya. Aku mencoba tersenyum
dan hal sulit itu terlupakan sejenak karena kesibukan ku bekerja. Saat itu aku
berkerja siang dan malam. Pagi jam 08.00 aku berangkat ke Jawa Timur Park 1 dan
sore pukul 15.00 aku berangkat casual di Batu Night Spectacular hingga larut
malam. Selalu seperti itu hingga satu bulan ku jalani.
( BERSAMBUNG KE PART 3)