Awalnya aku tidak pernah menyangka akan begini.Aku tidak pernah menduga jika akan berakhir seperti ini.Yang ku tahu dulu aku tidak memandangnya dengan jantung berdebar. Aku tidak pernah tersenyum salah tingkah jika mellihat nya. Ini sungguh jauh di luar kemampuan ku. Kami hanya sebatas rekan kerja yang senang bercerita tentang kisah cinta. Kisahnya dengan orang lain yang kandas. Begitupula aku yang saat itu sedang dekat dengan salah satu teman kampus ku. Kita sering berbagi canda tawa. Seperti sepasang sahabat, yaa sahabat baik. Bahkan sangat baik.
Kita hanya sebatas rekan kerja yang banyak meluangkan waktu bersama, banyak bertemu satu sama lain. Mulai dari hal kecil yang sering kita lakukan bersama, hingga hal besar seperti layaknya seorang bandit. Banyak perhatian – perhatian khusus baik dariku dan darinya. Banyak kebaikan – kebaikan yang ia lakukan untuk ku hingga aku tidak mampu membalas nya. Suatu ketika aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku tidak bisa menyebut perasaan itu apa. Yang jelas, sangat menyesakkan dadaku ketika aku tidak berkomunikasi dengannya. Ada sedikit rasa sakit jika ia membagi senyumannya kepada orang lain. Ada sedikit rasa cemburu ketika ia berinteraksi dengan orang lain yang ku tahu orang tersebut menginginkannya.
Hingga akhirnya aku sadari bahwa aku menaruh rasa kepadanya. Tidak bisa dipungkiri lagi aku menyukainya. Tapi perasaan ku tidak sepenuh saat ini, ketika itu aku juga mengenal sosok teman kampus yang sama asyik nya. Di sisi lain aku tidak mau menghancurkan persahabatan kami. Aku tidak mau jauh dari sosok sahabat baik seperti dia. Bak bertemu malaikat, dia ibarat bunga mawar tanpa duri. Dia sangat special. Aku sangat mengagumi nya dan ingin menggenggam erat hingga tak ku lepaskan.
Hari demi hari kita lewati, tiba saat nya teman kampus ku menambah umur. Aku tau dia juga special, aku memberinya kue ulang tahun di hari dia ulang tahun. Dan semenjak itu dia berubah dan menjaga jarak denganku. Aku tidak tahu salah apa yang aku perbuat. Semakin lama- hubugan kami semakin jauh. Aku mencoba mendekatinya, dia berusaha pergi. Kejadian – kejadian yang seharusnya menyenangkan seketika berubah drastis menjadi ironi. Entah dosa apa yang ku perbuat sehingga ia membenciku. Mungkin dulu kita terlalu dekat atau sangat dekat. Hingga kini kita jauh tanpa sempat aku mengatakan selamat tinggal. Semakin aku kejar, dia semakin jauh. Semakin aku tahan, dia semakin berontak.
Pada suatu ketika, aku tidak tahan dan aku mengatakan bahwa aku menyukainya. Saat itu aku berharap jawabannya “iya”. Namun jauh diluar harapan. Dia malah menyuruhku pergi dari kehidupannya dan tidak ingin aku mengganggunya. Yang jelas dalam obrolan itu ada kata – kata jika ia juga menyukaiku, tapi semuanya telah terlabat. Aku juga tidak mengerti arti dari kata “terlambat” yang ia maksud.
Ada kelegaan dalam hati, namun dalam diam aku tetap tidak mengerti akan keangkuhannya. Dan dimulai dari hari itu aku selalu mengungkapkan isi hatiku lewat tulisan. Setidaknya aku telah mengungkapkan apa yang telah aku rasakan meskipun tidak ia dengar. Meskipun ia tidak tahu bahwa aku menunggunya. Aku mencoba menuliskan sesuatu tentangnya ketika aku rindu. Aku menulis tentang nya saat aku bosan dan ketika aku terpuruk. Ada sepucuk surat untuk nya yang saat ini telah lepas dari genggamanku:
“Aku tidak ingin kamu menjadi kami. Aku hanya ingin menjadi tempat curahan dimana akhir dari perjalanan panjang yang telah kau lalui. Aku ingin kamu menjadi sinar bulan pada malam hari yang nampak indah dalam balutan langit gelap. Aku tak ingin memiliki mu.Aku hanya ingin melihat mu tersenyum karena aku. Namun yang ku bisa hanya mengenangmu dari jauh. Serta mendoakan kebahagiaan untuk mu. Bagiku, kau adalah bunga indah yang telah layu. Akan ku tutup sepenggal kisah ku bersamamu. Terima kasih untuk teka – teki yang belum terjawab. Dengan ini aku bisa belajar bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban.”.
Kita hanya sebatas rekan kerja yang banyak meluangkan waktu bersama, banyak bertemu satu sama lain. Mulai dari hal kecil yang sering kita lakukan bersama, hingga hal besar seperti layaknya seorang bandit. Banyak perhatian – perhatian khusus baik dariku dan darinya. Banyak kebaikan – kebaikan yang ia lakukan untuk ku hingga aku tidak mampu membalas nya. Suatu ketika aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku tidak bisa menyebut perasaan itu apa. Yang jelas, sangat menyesakkan dadaku ketika aku tidak berkomunikasi dengannya. Ada sedikit rasa sakit jika ia membagi senyumannya kepada orang lain. Ada sedikit rasa cemburu ketika ia berinteraksi dengan orang lain yang ku tahu orang tersebut menginginkannya.
Hingga akhirnya aku sadari bahwa aku menaruh rasa kepadanya. Tidak bisa dipungkiri lagi aku menyukainya. Tapi perasaan ku tidak sepenuh saat ini, ketika itu aku juga mengenal sosok teman kampus yang sama asyik nya. Di sisi lain aku tidak mau menghancurkan persahabatan kami. Aku tidak mau jauh dari sosok sahabat baik seperti dia. Bak bertemu malaikat, dia ibarat bunga mawar tanpa duri. Dia sangat special. Aku sangat mengagumi nya dan ingin menggenggam erat hingga tak ku lepaskan.
Hari demi hari kita lewati, tiba saat nya teman kampus ku menambah umur. Aku tau dia juga special, aku memberinya kue ulang tahun di hari dia ulang tahun. Dan semenjak itu dia berubah dan menjaga jarak denganku. Aku tidak tahu salah apa yang aku perbuat. Semakin lama- hubugan kami semakin jauh. Aku mencoba mendekatinya, dia berusaha pergi. Kejadian – kejadian yang seharusnya menyenangkan seketika berubah drastis menjadi ironi. Entah dosa apa yang ku perbuat sehingga ia membenciku. Mungkin dulu kita terlalu dekat atau sangat dekat. Hingga kini kita jauh tanpa sempat aku mengatakan selamat tinggal. Semakin aku kejar, dia semakin jauh. Semakin aku tahan, dia semakin berontak.
Pada suatu ketika, aku tidak tahan dan aku mengatakan bahwa aku menyukainya. Saat itu aku berharap jawabannya “iya”. Namun jauh diluar harapan. Dia malah menyuruhku pergi dari kehidupannya dan tidak ingin aku mengganggunya. Yang jelas dalam obrolan itu ada kata – kata jika ia juga menyukaiku, tapi semuanya telah terlabat. Aku juga tidak mengerti arti dari kata “terlambat” yang ia maksud.
Ada kelegaan dalam hati, namun dalam diam aku tetap tidak mengerti akan keangkuhannya. Dan dimulai dari hari itu aku selalu mengungkapkan isi hatiku lewat tulisan. Setidaknya aku telah mengungkapkan apa yang telah aku rasakan meskipun tidak ia dengar. Meskipun ia tidak tahu bahwa aku menunggunya. Aku mencoba menuliskan sesuatu tentangnya ketika aku rindu. Aku menulis tentang nya saat aku bosan dan ketika aku terpuruk. Ada sepucuk surat untuk nya yang saat ini telah lepas dari genggamanku:
“Aku tidak ingin kamu menjadi kami. Aku hanya ingin menjadi tempat curahan dimana akhir dari perjalanan panjang yang telah kau lalui. Aku ingin kamu menjadi sinar bulan pada malam hari yang nampak indah dalam balutan langit gelap. Aku tak ingin memiliki mu.Aku hanya ingin melihat mu tersenyum karena aku. Namun yang ku bisa hanya mengenangmu dari jauh. Serta mendoakan kebahagiaan untuk mu. Bagiku, kau adalah bunga indah yang telah layu. Akan ku tutup sepenggal kisah ku bersamamu. Terima kasih untuk teka – teki yang belum terjawab. Dengan ini aku bisa belajar bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban.”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar