Minggu, 26 April 2015

PEDIH (part 3)

 Kata orang, kebersamaan itu indah. Namun sampai detik ini aku belum pernah merasakan kebahagiaan di tengah – tengah keluarga ku. Mungkin aku terlalu memandang ke atas, aku tidak tahu cara bersyukur dengan status keluarga yang entah apalah ini namanya, yang jelas aku ingin berada di barisan orang yang berbahagia dengan keluarga. Yah.. Ini bukan mimpi yang setelah bangun hanya bisa menghela nafas dalam – dalam. Aku ingin bangkit dari keterpurukan ini. Namun apa daya, aku hanya insan yang mencoba tak mau tahu tentang kisah kelam ini.  Berbulan – bulan aku mencoba bangkit, aku mencoba suatu kesenangan. Aku berlari dari kenyataan ini, aku mencari sosok jati diri ku, aku tidak kuat lagi dengan ini Allah. Jika bisa aku melupakan nya sejenak, aku akan …Yah.. sekarang aku hanya bisa percaya bahwa Allah itu maha mengetahui. Saat ini Allah sedang  mengujiku. Aku percaya bahwa kaktus akan berbunga indah pada waktu nya.  Berbulan – bulan aku pun mengerti arti kehidupan yang sebenarnya, aku mencoba tak ingin percaya pada semua orang baik. Aku tak ingin serius pada suatu hubungan dengan orang lain. Ayu, gadis kecil manja yang pantang menyerah akan keras nya kehidupan,sedang bersama ku. Menatap langit biru dengan senangnya. Aku harus belajar banyak dari nya, meskipun dari kecil ia dibesarkan dari tangan seorang nenek, ia sanggup bertahan dalam kondisi apapun. Meskipun nenek nya telah meninggal dan ia duduk bersama ku, aku tetap ingin memandangi nya sebagai sosok gadis yang masih kecil dan tak seharus nya tahu tentang keras nya kehidupan. Apalagi di usia nya yang beranjak dewasa, dia gadis desa yang masih lugu. Hari – hari ku penuh dengan candaan dengan adik angkat ku itu. Mami Ifa, belum juga di nikah oleh ayahkku. Namun ia telah yakin bahwa ayahku adalah sosok yang teoat bagi Mami Ifa. Namun lagi - lagi kegagalan rumah tangga yang di alami ayahku. Mami Ifa mengetahui hubungan ayahku dengan wanita lain. Bunda Ika, seorang wanita janda darah Madura yang bekerja sebagai PRT di sebuah yayasan daerah Malang. Ia adalah sosok wanita tegas, berpendidikan, dan sangat disiplin. Mungkin dengan ketegasannya aku kurang cocok. Saat Bunda Ika ke rumah ku, aku merasa berada di dalam asrama. Bangun pagi pukul 04.00 menjadi rutinitas baruku. Aku selalu di suruh pergi ke pasar dengan waktu yang terlalu pagi. Namun aku ak pernah mengelak, karena aku tahu bahwa yang dilakukannya adalah benar dan untuk kebaikan ku kelak. Setelah berhari- hari aku jalani semakin tidak kuat aku. Ia terlalu disiplin. Kesedihan ku bertambah ketika  Hari Raya Idhul Fitri tahun 2014, Mami Ifa memilih untuk mengontrak rumah di desa Beji. Aku ikut membantu nya packing dan mengantarnya kesana. Ketika itu aku ingat pula yang di alami Mami Ifa sebelum ia meninggalkan rumahku. Ia sempat menangis tersedu, tangisan seorang wanita yang ku dengar kedua kalinya. Aku sangat menyesal, aku tidak tahan lagi. Aku ingin menjerit. Yang seharusnya menjadi acara keluarga yang membahagiakan. Tapi malah menjadi tangis sendu dalam suatu rumah. Aku ingat betul, ketika tetangga bersilaturahmi ke rumah ku aku justru menangis mendengar ayah ku dan Mami Ifa berteriak keras karena percekcokan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar